<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?>
<!DOCTYPE article PUBLIC "-//NLM//DTD JATS (Z39.96) Journal Publishing DTD v1.1d1 20130915//EN" "JATS-journalpublishing1.dtd">
<article xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink">
  <front>
    <journal-meta id="journal-meta-1">
      <journal-id journal-id-type="nlm-ta">Typeset</journal-id>
      <journal-id journal-id-type="publisher-id">Typeset</journal-id>
      <journal-id journal-id-type="journal_submission_guidelines">None</journal-id>
      <journal-title-group>
        <journal-title>No Template</journal-title>
      </journal-title-group>
      <issn publication-format="print"/>
    </journal-meta>
    <article-meta id="article-meta-1">
      <title-group>
        <article-title id="at-3ffff7c235bb">
          <bold id="strong-1">The Relationship Between Conformity And The Tendency Of Verbal Bullying Behavior Through Self-Esteem</bold>
        </article-title>
      </title-group>
      <contrib-group>
        <contrib contrib-type="author" corresp="yes">
          <name id="n-d1705e8cb428">
            <given-names>Moch Surya Hakim Irwanto</given-names>
          </name>
          <xref id="x-39b68ad16cd2" rid="a-9ca847ee7dbc" ref-type="aff">1</xref>
        </contrib>
        <contrib contrib-type="author" corresp="yes">
          <name id="n-b215d7236508">
            <given-names>Suyarnto</given-names>
          </name>
        </contrib>
        <contrib contrib-type="author" corresp="yes">
          <name id="n-1a9270dd8717">
            <given-names>Andik Matulessy</given-names>
          </name>
        </contrib>
        <aff id="a-9ca847ee7dbc">
          <institution>Fakultas Psikologi, Universitas 17 Agustus 1945</institution>
          <addr-line>Surabaya</addr-line>
          <country country="ID">Indonesia</country>
        </aff>
        <aff id="a-83b1d8f45dca">
          <institution>Fakultas Psikologi , Universitas Airlangga Surabaya</institution>
          <addr-line>Surabaya</addr-line>
          <country country="ID">Indonesia</country>
        </aff>
      </contrib-group>
      <permissions/>
      <abstract id="abstract-588b60d7fbea">
        <title id="abstract-title-0e0f79a77840">Abstract</title>
        <p id="paragraph-786c20430fa2"> This study is based on the prevalence of verbal bullying detection among students in schools. The purpose of this study was to determine the relationship between conformity and the tendency of verbal abuse behavior through self-esteem.This research takes the subject of research in SMP X with the number of 60 students. The method used is a quantitative method. This study shows the high number of peers present at the very high school level, the number of people is very high. Given from these results are benefits that can relate to verbal bullying. </p>
      </abstract>
      <kwd-group id="kwd-group-1">
        <title>Keywords</title>
        <kwd>peer friend conformity</kwd>
        <kwd>self-esteem</kwd>
        <kwd>verbal bullying</kwd>
      </kwd-group>
    </article-meta>
  </front>
  <body>
    <sec>
      <title id="t-35ceb70f2ce4">Introduction</title>
      <p id="p-0227b1619751"> Perkembangan remaja merupakan tahap perkembangan manusia yang paling rentan akan pengaruh-pengeruh dari luar. Masa dimana proses transisi dari anak-anak menuju dewasa. Perkembangan remaja umumnya dimulai pada usia 12 sampai 21 tahun dengan meliputi semua aspek perubahan. Terutama perkembangan-perkembangan fisik yang sangat berpengaruh pada kondisi psikisnya. Masa remaja juga masa dimana terdapat gejolak emosi dan ketidakseimbangan pada dirinya, maka remaja sangat rentan dipengaruhi oleh lingkungan luar. Perkembangan remaja yang penuh gejolak inilah yang sangat sulit untuk dikontrol.Hal ini disebabkan karena perubahan-perubahan yang dialami oleh remaja dari seluruh aspek, baik fisik dan psikis sehingga tidak semua remaja dapat mengontrol perubahan dirinya. </p>
      <p id="p-28e715acb143">Kenakalan-kenakalan kerap terjadi pada fase perkembangan ini. Kenakalan remaja didefinisikan sebagai berbagai perilaku, mulai dari perilaku yang yang tidak dapat diterima secara sosial, status pelangaaran, hingga tindak kriminal. Perilaku-perilaku yang ditampakan oleh remaja tersebut merupakan bentuk ketidaksesuaian antara pribadi remaja dengan keadaan lingkungan. Di Indonesia usia remaja adalah usia sekolah anak SMP dan SMA. Pelajar sering menunjukkan kenalakan remaja di lingkungan sekitar,misalnya menunjukkan perilaku kabur dari sekolah, mebolos, merokok, minum-minuman keras, tindak kekerasan yang dikenal dengan istilah <italic id="e-4d3b08c48441">bullying </italic> atau dikenal dengan istilah perundungan. Menurut Retno (2010) perundunganmerupakan perilaku agresi yang proaktif dimana perilaku <italic id="emphasis-2">bullying</italic> dilakukan oleh seseorang atau kelompok secara sengaja untuk maksud tertentu sebagai motivasi atau bahkan bentuk hukuman dari korban untuk mendapatkan balasannya. Perundungan terjadi karena ada unsur kesengajaan dari pihak yang merasa kuat dan otoriter. Ada beberapa bentuk perundungan yang dilakukan oleh beberapa siswa disekolah, seperti perundungan fisik yang menunjukkan gejala-gejala fisik (memar, benjolan, atau bahkan luka) yang di rasakan oleh korban oleh pelaku perundungan. Perundungan verbal yang berbeda dengan perundungan fisik, sangat sulit untuk dideteksi gejalanya karena perundungan verbal cenderung menggunakan bahasa untuk melukai bahkan merendahkan korbannya. Perilaku perundungan verbal sering dilakukan oleh siswa di sekolah seperti mengolok-olok, menghina nama orang tua, mengejek dengan kasar, bahkan merendahkan korbannya. Perilaku tersebut juga teramati di sekolah X yang cenderung menggunakan nama orang tua sebagai bahan ejekan. Bahkan ada yang secara tegas menghina dengan kasar para korbannya. Perilaku tersebut sering dilakukan oleh temannya sendiri, bahkan dari kakak kelas yang cenderung melakukan perundugan verbal kepada adik kelasnya kerap teramati oleh peneliti.</p>
      <p id="p-c2b1ce416efb">
        <bold id="s-a5a64a8533f9">Kecenderungan Perilaku Perundungan Verbal (<italic id="emphasis-3">Verbal Bullying</italic>)</bold>
      </p>
      <p id="p-29fa33728796">Olweus (1993) juga mengatakan hal yang serupa bahwa <italic id="emphasis-4">bullying</italic> adalah perilaku negatif yang mengakibatkan seseorang dalam keadaan tidak nyaman/terluka dan biasanya terjadi berulang-ulang <italic id="emphasis-5">“repeated during successive encounters”</italic>. Definisi bullying juga dijelaskan oleh Sejiwa (2008) bahwa bullying adalah perilaku agresif yang dilakukan secara sengaja terjadi berulang-ulang untuk menyerang seorang target atau korban yang lemah, mudah dihina dan tidak bisa mempertahankan diri. Perundungan verbal adalah sarana untuk menggunakan kata-kata dengan cara yang negatif seperti penghinaan, menggoda, merendahkan, dll, untuk mendapatkan kekuatan atas kehidupan orang lain. perundungan verbal mengacu pada seseorang menggunakan bahasa untuk mempermalukan, mengejek dan menghina orang lain. Perundungan verbal sulit untuk diketahui, tidak seperti bullying fisik yang dapat dilihat seperti (memar, goresan...). Perundungan verbal termasuk memanggil dengan kasar, memalak, menggunakan bahasa yang kasar dan sensitive, ucapan yang sangat kejam, mengirim ancaman, dengki, menyebarkan kabar-kabar yang buruk ( Sullivan, 2011). Faktor yang mempengaruhi perundungan verbal mengacu pada pendapat dari Sears, dkk tentang faktor-faktor <italic id="emphasis-6">bullying</italic> yakni faktor Individu, individu yang bersifat pencemas, berfisik lemas, cacat fisik, memiliki harga diri rendah, kurang memiliki konsep diri yang kuat, atau mudah dipengaruhi akan mudah menjadi korban bullying. Faktor teman sebaya, tindakan bullying yang diterima dan adanya pembiaran dari teman-teman atas kejadian <italic id="emphasis-7">bullying</italic> dapat menyebabkan perilaku <italic id="emphasis-8">bullying</italic> meningkat. Faktor sekolah, adanya senioritas, hukuman yang tidak tegas dan tidak konsisten pada pelaku dapat menyebabkan perilaku <italic id="emphasis-9">bullying</italic> meningkat. Faktor komunitas, ada tokoh yang menjadi acuan pelaku untuk mempublikasikan kemiripannya, biasanya individu mencontoh perilaku negatif idolanya.</p>
      <p id="p-1ac6fa44dad6"> </p>
      <p id="p-981f796d5833">
        <bold id="strong-2">Konformitas Teman Sebaya</bold>
      </p>
      <p id="paragraph-7">Sarwono (2002) mendefinisikan konformitas sebagai bentuk perilaku sama dengan orang lain yang didorong oleh keinginan sendiri. Adanya konformitas dapat dilihat dari perubahan perilaku atau keyakinan karena adanya tekanan dari kelompok, baik yang sungguh-sungguh ada maupun tidak. Utami dalam Desiyani (2016) mengemukakan bahwa konformitas muncul karena adanya kesamaan minat, nilai, dan norma yang dianut oleh anggota kelompok, serta adanya interaksi yang terus menerus dalam suatu kelompok tertentu. Hal ini juga serupa dengan penjelasan yang dipaparkan oleh Suryanto, (2012) konformitas adalah kecenderungan individu untuk mengubah persepsi, opini, dan perilaku mereka sehingga sesuai atau konsisten dengan norma-norma kelompok. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi konformitas teman sebaya menurut Baron &amp; Byrne, (2005) adalah yang pertama kohesivitas yakni ketertarikan seseorang terhadap suatu kelompok. Yang kedua adalah konformitas dan ukuran kelompok. Asch dan peneliti lainnya dalam Baron dan Byrne (2005) menemukan bahwa konformitas meningkat sejalan dengan bertambahnya jumlah anggota kelompok hingga delapan orang anggota tambahan atau lebih yang mana sebelumnya hanya tiga orang atau lebih. </p>
      <p id="paragraph-8">
        <bold id="strong-3">Harga Diri</bold>
      </p>
      <p id="paragraph-9">Coopersmith (1967) self esteem merupakan evaluasi yang dibuat individu dan kebiasaan memandang dirinya terutama mengenai sikap menerima atau menolak, dan indikasi besarnya kepercayaan dinividu terhadap kemampuannya, keberartian, kesuksesan dan keberhargaan. menurut Suryanto (2012) <italic id="emphasis-10">esteem </italic> berasal dari akar kata dalam bahasa Latin yaitu <italic id="emphasis-11">esteemare, </italic> yang artinya to <italic id="emphasis-12">estimate </italic> atau <italic id="emphasis-13">appraise. </italic> Oleh karena itu <italic id="emphasis-14">self-esteem </italic> dapat diartikan sebagai penilaian kita yang posistif ataupun negatif terhadap diri kita sendiri. Berdasarkan penjelasan di atas dapat kita ambil kesimpulan bahwasannya harga diri adalah pengalaman bahwa seseorang sesuai dengan kehidupan dan persyaratan hidup. Aspek-aspek harga diri menurut ahli antara lain : </p>
      <p id="paragraph-10"/>
      <list list-type="order">
        <list-item id="list-item-1">
          <p>Proses belajar</p>
        </list-item>
        <list-item id="list-item-2">
          <p>Penghargaan</p>
        </list-item>
        <list-item id="list-item-3">
          <p>Penerimaan</p>
        </list-item>
        <list-item id="list-item-4">
          <p>Interaksi dengan lingkungan</p>
        </list-item>
      </list>
      <p id="paragraph-11">Berdasarkan hasil kajian teori diatas, maka peneliti tertarik untuk meneliti “Hubungan antara konformitas dengan perilaku perundungan verbal melalui harga diri”.</p>
    </sec>
    <sec>
      <title id="t-d273fc9654e9">Metode</title>
      <p id="t-63b804609948">Metode yang digunakan peneliti yaitu menggunakan metode kuantitatif korelasi. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa-siswi SMP sebanyak 60 siswa dari semua jenjang kelas. Alat ukur yang digunakan menggunakan skala likert dengan rentang skor 1-5 dan skala di uji coba terpakai yang sekaligus hasil dari aitem yang sudah valid menjadi subjek yang di teliti. Analisis data menggunakan analisis menggunakan software SPSS. </p>
    </sec>
    <sec>
      <title id="t-ee5374d51f8e">Results</title>
      <p id="p-3e702c4e6ff5"> Untuk mengetahui hubungan tidak langsung antara konformitas teman sebaya dengan perundungan verbal maka dilakukan langkah-langkah sebagai berikut:</p>
      <p id="p-761c0fbbb9ca">Dengan menggunakan perhitungan statistik melalui SPSS.16 diperoleh hasil bahwa konformitas tidak berhubungan secara langsung dengan perundungan verbal. Dengan nilai signikansi sebasar 0,994 (p&gt;0,05) dengan nilai t sebesar – 0,008. Dari perhitungan tersebut maka dapat dikatakan bahwa konformitas teman sebaya tidak berhubungan negatif secara langsung terhadap perundungan verbal. Dapat dijelaskan bahwa tinggi rendahnya konformitas teman sebaya tidak berhubungan dengan kecenderungan perilaku perundungan verbal. </p>
      <p id="p-30ac0102bc4a">Sedangkan pada variabel harga diri menunjukkan signifikansi sebesar 0,004 (p&lt;0,05) dengan nilai t sebesar – 3.005. dari perhitungan tersebut dapat diketahui bahwa harga diri sangat berhubungan negatif secara langsung dengan perundungan verbal. Dari hasil perhitungan menunjukkan terdapat tanda negatif pada hasil perhitungan atau t hitung -3,005. Dapat dijelaskan bahwa semakin rendah harga diri seseorang semakin tinggi perundungan verbal seseoran. </p>
      <p id="p-bb6fb3335e0f">Selanjutnya perlu untuk mengetahui koefisien antara variabel X dengan variabel Z. Koefisien antara konformitas teman sebaya dengan harga diri diperoleh hasil sebagai berikut:</p>
      <fig id="f-0914faeeabcc" orientation="portrait" fig-type="graphic" position="anchor">
        <label>Figure 1 </label>
        <caption id="c-085056024861">
          <title id="t-b038776289da"/>
        </caption>
        <graphic id="g-50e93f40ba03"/>
      </fig>
      <p id="p-05b68f570ea3"> </p>
      <p id="p-75cc72f3bbad">Bagan 1. Skema Path Analisis. </p>
      <fig id="f-d9a65e48a5fd" orientation="portrait" fig-type="graphic" position="anchor">
        <label>Figure 2 </label>
        <caption id="c-92edeb888b39">
          <title id="t-d5dc443f9f77"/>
        </caption>
        <graphic id="g-b924a15a83cb"/>
      </fig>
      <p id="p-8c5f9b7825b9"> </p>
      <p id="p-e6f57dfeda25">Bagan 2 : Hasil Analisis Jalur </p>
      <fig id="f-b54334c001a4" orientation="portrait" fig-type="graphic" position="anchor">
        <label>Figure 3 </label>
        <caption id="c-e8b88b281304">
          <title id="t-15136e5c72d2"/>
        </caption>
        <graphic id="g-da2adb0e55fd"/>
      </fig>
      <p id="clipboard_property">statistik yang menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,009 (p&lt;0,05) dengan nilai t hitung sebesar 0,304. Dari hasil perhitungan tersebut maka dapat dikatakan bahwa konformitas teman sebaya sangat berhubungan dengan harga diri. Setelah menghitung besarnya hubungan langsung antara variabel X dengan Y, variabel Z dengan Y dan juga hubungan langsung X dengan Z maka dapat diketahui hubungan tidak langsung antara variabel X dengan Y melalui variabel Z sebagai variabel antara. </p>
    </sec>
    <sec>
      <title id="t-4a94f03c384f">Discussion</title>
      <p id="p-031b33949e6c"> </p>
      <fig id="f-046885c8444b" orientation="portrait" fig-type="graphic" position="anchor">
        <label>Figure 4 </label>
        <caption id="c-563ee51eb4f0">
          <title id="t-9c1060c120e2"/>
        </caption>
        <graphic id="g-983825905135"/>
      </fig>
      <fig id="f-02c09fb8f210" orientation="portrait" fig-type="graphic" position="anchor">
        <label>Figure 5 </label>
        <caption id="c-5350d723478c">
          <title id="t-a87d752e2ece"/>
        </caption>
        <graphic id="g-47a3464590b7"/>
      </fig>
      <p id="p-350eb851cc2a">Dari bagan diatas juga dapat diketahui besarnya nilai koefisient determinasi total, maka dapat diketahui koefisient determinasi total sebesar 0,2279 atau sebesar 22,79 %. Besarnya koefisient determinasi total adalah 22,79 % terhadap fenomena yang dikaji maka dapat dikatakan ada 77,21 % dari variabel lain yang tidak dimasukkan pada penelitian ini.</p>
      <p id="p-c4fd378d864b">Selanjutanya untuk mengetahui besarnya hubungan tidak langsung antara konformitas terhadap perundungan verbal melalui harga diri. Yakni dengan perkalian coeficient beta antara konformitas dengan harga diri dan harga diri dengan perundungan verbal. </p>
      <p id="p-4e93d192d865">Dari peritungan diatas dapat deketahui bahwa hubungan tidak langsung konformitas teman sebaya dengan perundungan verbal melalui harga diri sebesar -0,035512. Sedangkan pengaruh total didapat dari penjumlahan pengaruh langsung dengan pengaruh tidak langsung.</p>
      <p id="p-f86a8c2ed041">Dari perhitungan analisis jalur diatas dapat diketahui bahwa nilai hubungan langsung sebesar -0,008 sedangkan hubungan tidak langsung antara konformitas teman sebaya dengan perundungan verbal melalui harga diri sebesar -0,035512 lebih besar dari pengaruh langsung sebesar -0,008. Maka dapat dikatakan bahwa ada hubungan antara konformitas dengan perundungan verbal melalui harga diri. Sehingga hipotesis yang mengatakan ada hubungan konformitas teman sebaya dengan perundungan verbal melalui harga diri diterima.</p>
      <p id="p-c24700d45ffd">Perundungan verbal sering terjadi dikalangan pelajar. Pelajar yang berkelompok identik dengan pelajar yang kuat sehingga sangat rentan untuk melakukan perundungan kepada pelajar yang dilihatnya lemah dan tidak berdaya. Seperti yang dijelaskan oleh Siswati dan Masykur (2011) konformitas adalah ketika individu melakukan aktifitas dimana terdapat tendensi yang kuat untuk melakukan sesuatu yang sama dengan yang lainnya, walaupun tindakan tersebut merupakan cara-cara yang menyimpang. Hal inilah yang dapat memicu terjadinya tindak perundungan verbal yang ada disekolah. Pelaku cenderung meniru tindakan orang lain meskipun apa yang mereka lakukan sebetulnya adalah perilaku penyimpang. Namun pada sekolah X secara partial atau langsung konformitas teman sebaya yang terjadi di lingkungan sekolah tidak berhubungan dengan perundungan verbal. Perundungan verbal yang terjadi di lingkungan sekolah X cenderung <italic id="e-82b078077685">pribadi</italic>tanpa adanya pengaruh dari kelompok. Selain dari faktor individu ada faktor lain yang mempengaruhi perundungan verbal seperti iklim sekolah, sistem sekolah atau pola asuh orang tua.</p>
      <p id="p-a95d36a8c29a">Seseorang yang mempunyai tingkat harga diri rendah tidak hanya menjadi korban <italic id="e-8415b81d3187">bullying</italic> tetapi juga memicu adanya tindak <italic id="e-118246fa88c7">bullying</italic>. Seperti yang dijelaskan Baron (2003) bahwa ketika seseorang mempunyai tingkat harga diri rendah akan memicu perilaku kemarahan yang terbuka dan cenderung berperilaku agresif.Septriana (2009) yang mengatakan bahwa semakin tinggi harga diri seseorang semakin rendah perilaku perundungan verbal yang dilakukan seseorang. Pernyataan tersebut didukung oleh pemaparan dari Leary, Scrchreindorfer, &amp; Haupt (dalam Baron, 2003) yang menyatakan bahwa <italic id="e-76160660505b">self esteem</italic> yang tinggi memiliki konsekuensi yang positif, sementara <italic id="e-556fd28cabf5">self-esteem </italic> yang negatif memiliki efek yang kurang baik.</p>
      <p id="p-5039cc9f7bbb">Harga diri merupakan hal yang penting pada diri manusia. Seseorang yang mempunyai penilaian positif terhadap dirinya, mempunyai kepercayaan diri yang kuat, atau bahkan dia merasa bahwa dirinya sangat bermanfaat buat orang lain. Maka dapat dikatakan bahwa dia mempunyai harga diri yang tinggi. Seseorang yang mempunyai harga diri tinggi maka ia mempunyai keteguhan yang kuat, mempunyai kemandirian yang kuat sehingga jarang sekali membutuhkan orang lain. Berdasarkan hasil penelitian konformitas teman sebaya yang terjadi di sekolah X terbentuk dari tinggi rendahnya harga diri seseorang, semakin tinggi konformitas diikuti dengan tinggnya harga diri. Dengan membentuk sebuah kelompok-kelompok maka seseorang akan menunjukkan eksistensinya, menunjukkan kebermaknaan dirinya serta harga dirinya bersama kelompok. Selain itu konformitas juga karena kesamaan visi dan nilai. Hal ini sesuai dengan penjelasan dari Utami dalam Desiyani (2016) mengemukakan bahwa konformitas muncul karena adanya kesamaan minat, nilai, dan norma yang dianut oleh anggota kelompok, serta adanya interaksi yang terus menerus dalam suatu kelompok tertentu. Kesamaan ini lah yang memicu terjadinya konformitas. Pada kasus yang terjadi di sekolah X menunjukkan terjadinya konformitas dari seseorang yang memiliki kesamaan, yaitu tingginya harga diri. Ketika harga diri seseorang rendah maka kecenderungan seseorang akan cenderung melakukan tindakan yang negatif. Seperti yang dijelaskan oleh baron seseorang yang mempunyai harga diri rendah cenderung melakukan perilaku yang agresif seperti halnya perundungan verbal. Semakin tinggi harga diri maka akan positif perilaku yang ditunjukkan. Hasil penelitian pada sekolah X menunjukkan konformitas teman sebaya yang tinggi ternyata berhubungan dengan kecenderungan perilaku perundungan verbal yang rendah. Hal ini dikarenakan konformtas yang terjadi di kalangan siswa yang ada di sekolah X terbentuk dari sekumpulan orang yang mempunyai kesamaan harga diri yang tinggi. Ketika harga diri tinggi maka perundungan verbal yang terjadi di sekolah X tergolong rendah. Maka dapat dikatakan tingginya konformitas teman sebaya yang diikuti oleh tingginya harga diri seseorang secara tidak langsung dapat memicu rendahnya kecenderungan perilaku perundungan verbal.</p>
    </sec>
    <sec>
      <title id="t-5e2f73d6bfc8">Conclusion</title>
      <p id="p-9485e50c39af"> Hasil penelitian diatas menunjukkan tidak adanya hubungan antara konformitas teman sebaya dengan perundungan verbal, namun pada harga diri menunjukkan ada hubungan yang signifikan dengan perundungan verbal. maka dapat dikatakan harga diri termasuk faktor terjadinya perundungan verbal. sedangkan dengan analisis jalur menunjukkan adanya hubungan yang signifikan pengaruh tidak langsung antara konformitas teman sebaya dengan perundungan verbal melalui harga diri. Semakin tinggi konformitas semakin tinggi harga diri, sehingga semakin tinggi harga diri semakin rendah perundungan verbal. Pada penelitian selanjutnya diharapkan ada pengembangan penelitian yang berupa faktor-faktor lain yang diduga sebagai pemicu adanya perundungan verbal, seperti halnya pola asuh, iklim sekolah, gender, bahkan religiusitas. </p>
      <p id="p-9cfdcfaa0b40"><xref rid="R95635021039194" ref-type="bibr">1</xref>, <xref rid="R95635021039196" ref-type="bibr">2</xref>, <xref rid="R95635021039197" ref-type="bibr">3</xref>, <xref rid="R95635021039199" ref-type="bibr">4</xref>, <xref rid="R95635021039200" ref-type="bibr">5</xref>, <xref rid="R95635021039201" ref-type="bibr">6</xref>, <xref rid="R95635021039202" ref-type="bibr">7</xref> </p>
    </sec>
  </body>
  <back>
    <ref-list>
      <title>References</title>
      <ref id="R95635021039194">
        <element-citation publication-type="book">
          <person-group person-group-type="author">
            <name>
              <surname/>
              <given-names>Baron, R.A.</given-names>
            </name>
            <collab/>
          </person-group>
          <person-group person-group-type="editor"/>
          <source>Psikologi Sosial</source>
          <publisher-name>Erlangga.</publisher-name>
          <publisher-loc>Jakarta</publisher-loc>
          <year>2003</year>
          <comment>Jilid 1. Ed. 10</comment>
        </element-citation>
      </ref>
      <ref id="R95635021039196">
        <element-citation publication-type="book">
          <person-group person-group-type="author">
            <name>
              <surname>A</surname>
              <given-names>Retno. P.</given-names>
            </name>
            <collab/>
          </person-group>
          <person-group person-group-type="editor"/>
          <source>Meredam Bullying</source>
          <publisher-name>Grasindo</publisher-name>
          <publisher-loc>Jakarta</publisher-loc>
          <year>2010</year>
        </element-citation>
      </ref>
      <ref id="R95635021039197">
        <element-citation publication-type="book">
          <person-group person-group-type="author">
            <name>
              <surname>Sejiwa</surname>
              <given-names/>
            </name>
            <collab/>
          </person-group>
          <person-group person-group-type="editor"/>
          <source>Bullying mengatasi kekerasan di Sekolah dan Lingkungan Sekitar Anak.</source>
          <publisher-name>Grasindo</publisher-name>
          <publisher-loc>Jakarta</publisher-loc>
          <year>2008</year>
        </element-citation>
      </ref>
      <ref id="R95635021039199">
        <element-citation publication-type="journal">
          <person-group person-group-type="author">
            <name>
              <surname>A.M</surname>
              <given-names>Septriana,</given-names>
            </name>
            <name>
              <surname>J.L</surname>
              <given-names>Cheril</given-names>
            </name>
            <name>
              <surname/>
              <given-names>Febriana M.S</given-names>
            </name>
            <name>
              <surname>Andriani</surname>
              <given-names>Inge</given-names>
            </name>
            <collab/>
          </person-group>
          <article-title>Hubungan Konformitas Teman Sebaya dengan Self-Esteem Siswa. Proceeding PESAT </article-title>
          <source>Psikologi, ekonomi, Sastra, Arsitektur, &amp;Sipil</source>
          <year>2009</year>
          <volume>1</volume>
          <issn>1885-2559</issn>
          <publisher-loc>Universitas Gunadarma-Depok</publisher-loc>
        </element-citation>
      </ref>
      <ref id="R95635021039200">
        <element-citation publication-type="journal">
          <person-group person-group-type="author">
            <name>
              <surname>Siswati</surname>
              <given-names/>
            </name>
            <name>
              <surname>Widayanti</surname>
              <given-names/>
            </name>
            <collab/>
          </person-group>
          <article-title>Fenomena Bullying  Di Sekolah Dasar Negeri Di Semarang</article-title>
          <source>Jurnal Psikologi Undip</source>
          <year>2009</year>
          <volume>5</volume>
          <issue>2</issue>
        </element-citation>
      </ref>
      <ref id="R95635021039201">
        <element-citation publication-type="book">
          <person-group person-group-type="author">
            <name>
              <surname>K</surname>
              <given-names>Sullivan,</given-names>
            </name>
            <collab/>
          </person-group>
          <person-group person-group-type="editor"/>
          <source>The Anti Bullying Handbook</source>
          <publisher-loc>Oxford University Press</publisher-loc>
          <year>2011</year>
        </element-citation>
      </ref>
      <ref id="R95635021039202">
        <element-citation publication-type="book">
          <person-group person-group-type="author">
            <name>
              <surname>Suryanto.</surname>
              <given-names/>
            </name>
            <name>
              <surname>M.G.B.A</surname>
              <given-names>Putra,</given-names>
            </name>
            <name>
              <surname>Herdiana</surname>
              <given-names/>
            </name>
            <name>
              <surname>N.I.</surname>
              <given-names>Alfian</given-names>
            </name>
            <collab/>
          </person-group>
          <person-group person-group-type="editor"/>
          <source>Pengantar Psikologi Sosial</source>
          <publisher-loc>Airlangga University Press. Cet 1.</publisher-loc>
          <year>2012</year>
        </element-citation>
      </ref>
    </ref-list>
  </back>
</article>
