<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<!DOCTYPE article PUBLIC "-//NLM//DTD JATS (Z39.96) Journal Archiving DTD v1.0 20120330//EN" "JATS-journalarchiving.dtd">
<article xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:ali="http://www.niso.org/schemas/ali/1.0">
  <front>
    <article-meta>
      <title-group>
        <article-title>The Relationship of Self-Control with Bullying Behavior in Class 7 Junior High School Students</article-title>
        <subtitle>Hubungan Kontrol Diri dengan Perilaku Bulying Pada Siswa Kelas 7 Sekolah Menengah Pertama</subtitle>
      </title-group>
      <contrib-group content-type="author">
        <contrib id="person-4e1b14017f5dac0bce2a10870b87f38f" contrib-type="person" equal-contrib="no" corresp="no" deceased="no">
          <name>
            <surname>Affandi</surname>
            <given-names>Ghozali Rusyid</given-names>
          </name>
          <email>ghozali@umsida.ac.id</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-1" />
        </contrib>
        <contrib id="person-f4b9e21911eecc6022bcb33ecaf77ac3" contrib-type="person" equal-contrib="no" corresp="no" deceased="no">
          <name>
            <surname>Putra</surname>
            <given-names>Buyung Ariza</given-names>
          </name>
          <email>tkr2buyungputra@gmail.com</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-2" />
        </contrib>
      </contrib-group>
      <aff id="aff-1">
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <aff id="aff-2">
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <history>
        <date date-type="received" iso-8601-date="2022-11-10">
          <day>10</day>
          <month>11</month>
          <year>2022</year>
        </date>
      </history>
      <abstract />
    </article-meta>
  </front>
  <body id="body">
    <sec id="heading-d5787031cd9c13d35d2f7f708df041b4">
      <title>Pendahuluan</title>
      <p id="_paragraph-12">Sekolah adalah institusi pendidikan bersifat formalistik yang memiliki fungsi wahana untuk peningkatan bakat dan minat anak didik. Wayne berpendapat bahwa sekolah merupakan suatu sistem hubungan sosial dari institusi yang menyeluruh meliputi hubungan personal yang terhubung secara bersama dalam relasi organik[1]. Sementara itu, sesuai dengan UU No 2 Tahun 1989 sekolah merupakan satuan pendidikan yang bertingkat serta berkelanjutan untuk melaksanakan aktivitas pembelajaran<bold id="_bold-15">. </bold></p>
      <p id="_paragraph-13">Sekolah merupakan institusi bagi para anak didik. Pengajaran anak didik diawasi oleh pendidik. Mayoritas negara mempunyai sistem pendidikan yang bersifat formalistik yang biasanya terjadi perkembangan dengan seperangkat aktivitas pembelajaran di sekolah. Nama generik untuk sekolah variatif sesuai dengan negaranya, namun biasanya meliputi sekolah dasar untuk generasi anak kecil serta sekolah menengah untuk remaja yang sudah menuntaskan pendidikan dasar. Kewajiban anak didik di sekolah adalah melakukan aktivitas pembelajaran. Anak didik tentu dekat dengan aktivitas pembelajaran, karena kegiatan pembelajaran adalah kewajiban anak didik. Aktivitas sesorang anak didik selain melakukan kegiatan pembelajaran adalah mengerjakan tugas di rumah, menjalankan piket, sesuai jadwal, mengikuti kegiatan upacara hari senin dan hari besar lainnya, menjalankan tindakan dan sikap yang baik kepada siswa lainnya, dan para guru di sekolah.</p>
      <p id="_paragraph-14">Sekolah yang seharusnya menjadi tempat untuk belajar, bergaul dan mengembangkan potensi yang ada pada diri siswa tetapi justru menjadi tempat yang menakutkan bagi siswa-siswi yang sedang menempuh pendidikan di sekolah-sekolah yang ada di indonesia. Pelajar di sekolah yang seharusnya belajar, menjadi takut dan terancam karena banyaknya kasus kekerasan yang dilakukan oleh temannya sendiri. Oleh karena itu, seorang siswa harus mampu menjauhi perbuatan-perbuatan yang dapat menimbulkan pengaruh negatif bagi teman-temannya.</p>
      <p id="_paragraph-15">Perilaknu <italic id="_italic-35">bullying</italic> adalah perilaku menyerang atau agresif yang di lakukan secara individu ataupun berkelompok terhadap seseorang ataupun kelompok lainnya yang dijalankan secara berulang kali melalui deraan fisik ataupun psikis[2]. Sedangkan menurut Astuti perilaku <italic id="_italic-36">bullying</italic> yang ada di sekolah mempuyai tiga karakteristik yang menyatu[3], yakni, 1) tindakan yang dijalankan secara sengaja oleh pelaku dengan maksud untuk membuat sakit korban. 2) tindakan yang dijalankan tidak berimbang yang dapat menekan perasaan korban. 3) tindakan yang dijalankan secara berulang kali. Berbeda dengan agresi, perilaku <italic id="_italic-37">bullying </italic>merupakan situasi akhir yang diinginkan dan dicapai melalui penggunaan kekuatan secara bertujuan untuk menyakiti orang lain dan untuk menunjukkan dominansi seseorang terhadap orang lain. hasil akhir dari perilaku <italic id="_italic-38">bullying</italic> lebih dapat diprediksi dibanding hasil akhir dari agresi. Sementra agresi merupakan situasi saat seseorang memperoleh sesuatu dengan menggunakan kekuatan namun dominansinya terhadap target atau korban merupakan hal yang insidental dan tidak disengaja[4]. Beberapa ahli memandang perilaku <italic id="_italic-39">bullying</italic> sebagai agresi yang berulang. Anesty menulis bahwa <italic id="_italic-40">bullying</italic> terjadi saat korban mengalami tindakan negatif yang berulang dan terus-menerus, jadi dalam perilaku <italic id="_italic-41">bullying</italic> selalu ada serangan yang berulang[5].</p>
      <p id="_paragraph-16">Maraknya kasus perilaku bullying di sekolah sangat memprihatinkan, terutama bagi korban yang sering menerima tindakan bullying yang dilakukan oleh teman-temanya sendiri. Siswa yang sering menerima perlakuan bullying di sekolah, menurut Marela, dkk. berpeluang 1,5 kali lebih besar mengalami depresi dibandingkan dengan yang tidak mengalami perlakuan <italic id="_italic-42">bullying</italic>[6]. Kemungkinan terburuk korban bisa bertindak di luar dugaan misalnya melakukan upaya bunuh diri karena merasa mendapatkan ancaman serta tekanan oleh perlakukan kekerasan yang diterimanya. Korban perilaku <italic id="_italic-43">bullying</italic> juga kelak saat sudah besar, kemungkinan besar akan berubah menjadi pelaku <italic id="_italic-44">bullying</italic>, berubah liar dan suka menyerang hingga sampai bisa bertindak jahat seperti membunuh.</p>
      <p id="_paragraph-17">Dampak dari perilaku <italic id="_italic-45">bullying</italic> tidak hanya dirasakan oleh korban perilaku <italic id="_italic-46">bullying,</italic> akan tetapi juga berimplikasi terhadap pelaku <italic id="_italic-47">bullying</italic>. Dampak perilaku <italic id="_italic-48">bullying</italic> berupa gangguan kesehatan mental. Sementara itu, terdapat dua pembagian perilaku <italic id="_italic-49">bullying</italic>, mengacu pada media yang dilibatkan, yakni <italic id="_italic-50">traditional</italic> <italic id="_italic-51">bullying</italic> dan <italic id="_italic-52">cyberbullying</italic>. Keduanya merupakan sebuah tindakan agresi yang menyebabkan kerugian pada orang lain, yang biasanya dilakukan secara berulang dari waktu ke waktu, dan terjadi di antara individu yang hubungannya dicirikan oleh ketidakseimbangan kekuasaan[7]. Pelaku <italic id="_italic-53">bullying</italic> mempunyai intensitas empati yang minim dalam fenomena interaksi sosial. Skrzypiec menyebutkan bahwa mereka mengalami permasalahan perilaku abnormal, hiperaktif, dan pro-sosial ketika terlibat dalam proses interaksi sosial. Baik empati maupun perilaku abnormal, perilaku hiperaktif, dan pro-sosial sangat berkaitan dengan respon pelaku ketika dirinya terlibat dengan lingkungan sosial sekitar[8]. Berbeda dengan korban-pelaku, tingkat gangguan kesehatan mental mereka lebih besar dibandingkan pelaku dan korban <italic id="_italic-54">bullying</italic>. Mereka adalah individu yang melakukan tindakan <italic id="_italic-55">bullying</italic>, namun mereka juga menjadi korban <italic id="_italic-56">bullying</italic>[9]. Mereka mengalami permasalahan pro-sosial, hiperaktif, dan perilaku[8]. Untuk korban <italic id="_italic-57">bullying</italic>, penelitian Skrzypiecmenjelaskan bahwa mereka berada pada rating antara pelaku dan korban-pelaku <italic id="_italic-58">bullying</italic>[8]. Mereka mempunyai masalah dengan kesehatan mental, terutama gejala emosional[8]. Hal yang sering ditemukan adalah mereka sering terisolasi secara sosial, tidak mempunyai teman dekat atau sahabat, dan tidak memiliki hubungan baik dengan orang tua[10].</p>
      <p id="_paragraph-18">Perilaku<italic id="_italic-59"> Bullying</italic> yang terjadi pada anak-anak mengakibatkan tingginya tingkat depresi, kecemasan, dan bunuh diri ketika dewasa[11]. Tidak hanya itu, mereka bahkan mengalami permasalahan dalam hubungan sosial, kondisi ekonomi yang memburuk, dan rendahnya <italic id="_italic-60">well-being</italic> ketika menginjak usia 50 tahun[11][9]. Demikian, <italic id="_italic-61">bullying</italic> berdampak pada rendahnya tingkat hubungan sosial korban, kesehatan mental dan fisik, dan persoalan ekonomi[11].</p>
      <p id="_paragraph-19">Menurut (KPAI) Kasus kekerasan (bullying) di sekolah menduduki peringkat teratas di sektor pendidikan. Jumlah anak sebagai pelaku kekerasan (bullying) di sekolah mengalami kenaikan dari 67 kasus pada 2014 menjadi 79 kasus di 2015 [12] . Hal tersebut menguatkan bahwa kasus kekerasan bullying masih banyak terjadi di sekolah-sekolah yang berada di Indonesia. Coloroso bullying terjadi karena ada pihak yang menindas, adanya penonton yang diam atau bahkan mendukung, dan adanya pihak yang dianggap lemah dan menganggap dirinya sebagai pihak yang lemah, sehingga mereka yang merasa dirinya lemah akan menganggap bahwa mereka memang pantas diperlakukan seperti itu[13].</p>
      <p id="_paragraph-20">Sesuai dengan permasalahan yang ada di sekitar domisili peneliti, perilaku <italic id="_italic-62">bullying </italic>dijummpai di Sekolah Menengah Pertama (SMP). Peneliti sudah melakukan pengamatan terhadap salah satu SMP di ligkungan domisili peneliti yang kerap ada tindakan <italic id="_italic-63">bullying</italic>. Perihal perilaku <italic id="_italic-64">bullying</italic> itu, sesuai dengan wawancara dengan anak didik dan guru BK sekolah itu, yaikni SMPN X yang akan dijadikan sebagai lokasi riset ini. Peneliti sudah menjalankan <italic id="_italic-65">interview</italic> singkat terhadap anak didik dan guru BK, berhubungan dengan riset yang akan dijalankan.</p>
      <p id="_paragraph-21">Sesuai dengan keterangan dan informasi dari <italic id="_italic-66">interview</italic> yang didapatkan, perilaku <italic id="_italic-67">bullying</italic> lebih sering terjadi pada siswa kelas 7. Hal ini disebabkan karena pada usia siswa menginjak kelas 7 SMP, siswa mengalami peralihan masa anak-anak ke masa remaja. Pada tahap peralihan tersebut, anak mulai berinteraksi dengan lingkungan yang baru, mulai mengembangkan rasa percaya diri, serta berusaha mencapai kompetensi penting yang harus dimilikinya[14]. Kegagalan dalam mencapai kompetensi tersebut akan dapat memicu anak untuk melakukan tindakan <italic id="_italic-68">bullying</italic>[15]<italic id="_italic-69">.</italic>Meski kelas VII merupalan kelas paling rendah di SMP, pelaku <italic id="_italic-70">bullying</italic> tetap ada di kelas paling rendah (yunior). Perilaku <italic id="_italic-71">Bullying</italic> terjadi bukan hanya senior (kelas VIII/IX) kepada yuniornya (VII) saja, melainkan juga terjadi pada anak yang berstrata ekonomi tinggi mem-<italic id="_italic-72">bully</italic> anak berstrata ekonomi rendah; anak yang kuat mem-bully anak yang lemah; anak dari etnis mayoritas mem-bully anak dari etnis minoritas; laki-laki mem-bully perempuan atau sebaliknya; anak berfisik normal mem-bully anak <italic id="_italic-73">invalid</italic>; anak anggota <italic id="_italic-74">genk </italic>tertentu mem-bully anak bukan anggota <italic id="_italic-75">genk. </italic>Dengan demikian, dapat dipahami bahwa pelaku<italic id="_italic-76"> bullying </italic>bukan saja karena senoritas saja. Menurut Astuti, terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi perilaku bullyingyaitu : perbedaan kelas (senioritas, ekonomi, agama, jender, etnisitas atau rasisme), keluarga yang tidak rukun, situasi sekolah yang tidak harmonis atau diskriminatif, karakter individu sendiri[3].</p>
      <p id="_paragraph-22">Solberg &amp; Olweus menyampaikan bahwa aspek-aspek tentang perilaku <italic id="_italic-77">bullying</italic> mencakup : aspek <italic id="_italic-78">verbal</italic> yaitu, suatu tindakan yang mempunyai tujuan untuk membuat sakit individu melalui tertawaan, memposisikannya sebagai tertawaan, memanggil individu dengan suatu julukan buruk, yang menimbulkan perasaan kurang enak, dan menyebabkan rasa sakit hati serta amarah. Adanya perilaku <italic id="_italic-79">bullying</italic> yang dilakukan oleh siswa kepada temannya tentu suatu hal yang memprihatinkan sebab perilaku <italic id="_italic-80">bullying</italic> sangat berdampak buruk bagi psikis yang tekena <italic id="_italic-81">bullying</italic>. Tindakan <italic id="_italic-82">bullying</italic> harus dihindari dengan memperkuat kontrol diri pada siswa.</p>
      <p id="_paragraph-23">Taufik menjelaskan bahwa perilaku <italic id="_italic-83">bullying </italic>disebabkan oleh berbagai faktor, diantaranya yaitu dikarenakan kontrol diri yang lemah. Berkat berpendapat bahwa kontrol diri yakni pengendalian keinginan atau dorongan sesaat yang bertentangan dengan aturan atau norma sosial, yang juga menjadi pedoman bagi kontrol diri adalah moralitas otonom. Moralitas otonom adalah tahap kedua dari perkembangan moral dalam teori Piaget, bahwa anak remaja mulai menyadadari aturan-aturan dan hukum-hukum yang berlaku, juga memutuskan tindakan berdasarkan konsekuensi yang diterimanya[16].</p>
      <p id="_paragraph-24">Pengendalian diri menjadi dasar bagi menyatunya pikiran, kebiasaan, impuls, emosi dan tingkah laku yang berasal dari diri sendiri atau yang berasal dari masyarakat. Individu yang memiliki kontrol diri yang baik akan cenderung untuk menjauhi perilaku negatif. Sebaliknya, individu dengan kontrol diri yang rendah akan lebih sering memunculkan perilaku negatif juga menujukkan perilaku yang melanggar aturan. (Widodo, 2013). Pernyataan tersebut diperkuat oleh pernyataan Wiyani yang menyebutkan bahwa kapasitas melakukan kontrol diri bisa mengurangi tindakan <italic id="_italic-84">bullying</italic>.</p>
      <p id="_paragraph-25">Kontrol diri merupakan kekuatan sesorang dalam melakukan pegendalian dorongan internal ataupun eksternal seseorang[17]. Kemudian Baumeister menyatakan bahwa kontrol diri berdasarkan pada kemampuan untuk merubah tanggapan individu, khusunya untuk membawanya cocok dengan parameter misalnya tujuan hidup, nilai moralitas, dan nilai sosial dan dalam rangka menbantu atas tercapainya sasaran di masa depan. Bisa dimengerti bahwa kontrol diri berhubungan dengan kapasitas seseorang dalam menunjukkan konsekuensi positif terhadap yang dijalankannya.</p>
      <p id="_paragraph-26">Banyaknya kasus perilaku <italic id="_italic-85">bullying </italic>yang terjadi pada remaja, khususnya saat siswa kelas 7 SMP karena pada usia tersebut anak mengalami peralihan masa anak-anak ke masa remaja dan dampak yang ditimbulkan bagi pelaku maupun korban juga begitu besar. Penelitian mengenai perilaku <italic id="_italic-86">bullying </italic>perlu dilakukan agar perilaku <italic id="_italic-87">bullying </italic>di sekolah dapat dideteksi akar masalahnya, dievaluasi penyebabnya, dan diminimalisir dengan cara melakukan konseling dan bimbingan.</p>
      <p id="_paragraph-27">Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan masalah yang diajukan adalah “apakah ada hubungan kontrol diri dengan perilaku <italic id="_italic-88">bullying</italic> pada siswa kelas VII SMPN X. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara kontrol diri dengan perilaku<italic id="_italic-89"> bullying</italic> pada siswa kelas VII SMPN X. Adapun hipotesis yang dapat diajukan dalam penelitian ini adalah terdapat hubungan negatif antara kontrol diri dengan perilaku <italic id="_italic-90">bullying </italic>pada siswa kelas VII SMP X di Sidoarjo. Hal tersebut berarti kontrol diri yang meningkat pada siswa akan diikuti oleh penurunan perilaku <italic id="_italic-91">bullying</italic>nya. Demikian juga, kontrol diri yang mengalami penurunan akan berdampak pada peningkatan perilaku <italic id="_italic-92">bullying</italic>nya.</p>
    </sec>
    <sec id="heading-5d68d6328d0f427b933cf3d912f47d88">
      <title>Metode Penelitian</title>
      <p id="_paragraph-28">Metode yang akan digunakan yaitu metode kuantitatif korelasional. Sebagaimana dijelaskan oleh Sugiyono. metode riset kuantitatif bisa didefinisikan sebagai metode riset yang mengacu pada filsafat positifism, dipakai untuk meriset pada populasi atau sampel tertentu, sampel diambil dengan dilaksanakan dengan acak, data dikumpulkan memakai instrumen riset, analisa data memiki sifat kuantitatif ataupun statistik dengan sasaran untuk melakukan pengujian hipotesis yang sudah ditentukan Sedangkan Sugiyono menjelaskan bahwa metode korelasional yaitu metode perkaitan atau metode riset yang berupaya mengkait-kaitkan antara suatu komponen dengan komponen lainnya untuk membuat bentuk baru yang tidak sama dengan terdahulunya[18]. Metode korelasional dalam penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kontrol diri dengan perilaku <italic id="_italic-93">bullying</italic>. Populasi penelitian ini yaitu siswa yang tengah menempuh pendidikan menengah pertama kelas VII SMP “X” berjenis kelamin laki-laki maupun perempuan. Populasi dalam penelitian itni yaitu siswa kelas VII SMP “X” sebanyak 360 siswa. Riset ini terdiri atas dua variabel yakni dependen dan independen. Variabel dependen dalam penelitian ini yaitu perilaku <italic id="_italic-94">bullying</italic>dan variabel independen dalam penelitian ini yaitu kontrol diri. Penetapan jumlah sampel memakai tabel <italic id="_italic-95">Krejcie</italic> yang mengacu pada kesalahan 5 persen, yang berarti sampel yang didapat mempunyai taraf keyakinan 95 persen. Tabel <italic id="_italic-96">Krejcie</italic> total populasi adalah 360 dengan menggunakan <italic id="_italic-97">error</italic> 5% dan tingkat kepercayaan 95% sampel yang diperoleh yaitu 186 responden. Dengan demikian, pada riset ini digunakan sampel sejumlah 186 siswa.</p>
      <p id="_paragraph-29">Teknik sampling yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah <italic id="_italic-98">simple random sampling</italic>, yaitu teknik pengambilan secara acak atau random (Arikunto, 2014).Dengan jumlah sebanyak 177 siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Sukodono. Metode pengumpulan data yang akan dipakai dalam riset ini yaitu Data dikumpulkan menggunakan teknik skala, yaitu skala perilaku <italic id="_italic-99">bullying </italic>dan skala kontrol diri yang memakai skala <italic id="_italic-100">likert</italic> yang merupakan skala yang digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial dengan rentang 1 (sangat tidak setuju – 5 (sangat setuju) (Sugiyono, 2014:13).</p>
      <p id="_paragraph-30">Skala perilaku <italic id="_italic-101">bullying </italic>dalam penelitian ini mengadaptasi skala penelitian Wicaksana (2017). Skala perilaku <italic id="_italic-102">bullying </italic>berjumlah 18 aitem yang seluruhnya merupakan aitem <italic id="_italic-103">favorable, </italic>yang meliputi aspek verbal, <italic id="_italic-104">indirect </italic>dan <italic id="_italic-105">physical. </italic>Reliabilitas skala perilaku <italic id="_italic-106">bullying</italic> 0,747. Skala kontrol diri yang dalam penelitian ini mengadaptasi penelitian Laiyina. Skala kontrol diri berjumlah 31 aitem terdiri atas 16 aitem <italic id="_italic-107">favorable </italic>dan 15 aitem <italic id="_italic-108">unfavorable</italic> , yang meliputi aspek kontrol diri, kontrol kognitif, dan kontrol keputusan. Reliabilitas skala kontrol diri 0,881</p>
      <p id="_paragraph-31">Teknik analisis data pada penelitian ini yaitu dengan menggunakan uji normalitas, uji linieritas dan uji hipotesis. Pengujian normalitas data disebut normal, bila nilai sig. lebih besar dibanding 0,05. Bila nilai sig. lebih kecil dibanding 0,05, maka data disebut tidak normal. Pengujian linearitas memakai program SPSS dengan <italic id="_italic-109">Test for Linearity</italic> ada tingkat sig. 5%. Dua variabel dinyatakan memiliki korelasi yang linear jika sig. <italic id="_italic-110">(Linearity)</italic> &lt; 0,05. Uji hipotesis pada penelitian ini menggunakan korelasi <italic id="_italic-111">Pearson Product Moment</italic>. Pengambilan keputusan dalam uji korelasi <italic id="_italic-112">Pearson Product Moment </italic>yaitu : Bila nilai sig. &lt; 0,05 : berarti ada korelasi antara kontrol diri dengan perilaku <italic id="_italic-113">bullying</italic> dan Bila nilai sig. &gt; 0,05 : berarti tidak ada korelasi antara kontrol diridengan perilaku <italic id="_italic-114">bullying</italic></p>
      <p id="_paragraph-32">Kriteria tingkat hubungan (koefisien korelasi) antar variabel berkisar antara 0,00 sampai 1 tanda + adalah positif dan tanda – adalah negatif. Arah hubungannya ada dua yaitu hubungan searah dan hubungan berbanding terbalik. Dikatakan searah jika nilai koefisien korelasinya positif. Artinya jika variabel bebas (X) meningkat maka akan diikuti oleh peningkatan variabel terikat (Y). Sebaliknya, jika variabel bebas (X) menurun maka juka akan diikuti oleh penurunan variabel terikat (Y). Dikatakan berbanding terbalik jika nilai koefisen korelasinya negatif. Artinya jika variabel bebas (X) menurun maka justru variabel terikat (Y) meningkat. Sebaliknya, jika variabel bebas (X) meningkat makan justru variabel terikat (Y) menurun.</p>
    </sec>
    <sec id="heading-92d38825a3771a4cf1b1d88be290b3bd">
      <title>Hasil dan Pembahasan</title>
      <sec id="heading-e6304a1e17e18d93029b77bbedbf433b">
        <title>Hasil Penelitian</title>
        <p id="_paragraph-33">Berdasarkan hasil uji normalitas pada output SPSS uji <italic id="_italic-115">Kolmogorov-Smirnov </italic>menunjukkan:</p>
        <table-wrap id="_table-figure-1">
          <label>Table 1</label>
          <caption>
            <title>Hasil Uji Normalitas</title>
            <p id="_paragraph-35" />
          </caption>
          <table id="_table-1">
            <tbody>
              <tr id="table-row-7cc2a134ad07e282a72c58535d4a6ad8">
                <td id="table-cell-7f916c5ba08a41261d1691b4439d5f81" colspan="4">One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-fb940c99e3d8398f783f804869facb68">
                <td id="table-cell-efe2f549bd3035aaad7e7d1dfc6598b0" colspan="2" />
                <td id="table-cell-780086471d71196eb752e0162cd929e7">Kontrol Diri</td>
                <td id="table-cell-a70cf522b2921b35f960abd16cc98a82">Bullying</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-48e93215a3c2689893b7034ba625192c">
                <td id="table-cell-d98431024b0bc0274420d8a05427298e" colspan="2">N</td>
                <td id="table-cell-100bcc7a83e2a14f2a6a3b5051df6a84">186</td>
                <td id="table-cell-6449ff873e71af3b773d578f09f4a1ad">186</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-ee8409c0f409f8f06007517871521c19">
                <td id="table-cell-85e09c8ae516c3aa16b8397c1024f565">Normal Parameters a,b </td>
                <td id="table-cell-a88eff18c6f69b0f4fe2ee14ad617206">Mean</td>
                <td id="table-cell-ed15507b12a96f3bf24d9953a7aaf8ac">70,30</td>
                <td id="table-cell-9059be8c56778c4fa6a4a7a46878f22e">25,66</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-d49f32e6e63ca45a926cdcdb202caf79">
                <td id="table-cell-3f43b6498ca51a72ee888d8b5ff9e98a" />
                <td id="table-cell-48005d30a435c7f1bc1daaa62ca3194c">Std. Deviation</td>
                <td id="table-cell-1ce9c5baccd78e162bbcabd19e855be7">8,224</td>
                <td id="table-cell-b86e572a7dd1372cd7017a33448d805c">6,659</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-d9a6a61304318381480d6e58c2879ce1">
                <td id="table-cell-d78cc7e443ce302c35b12a87e16575bf" rowspan="3">Most Extreme Differences</td>
                <td id="table-cell-779582144189f3a2e05543e2c51092c1">Absolute</td>
                <td id="table-cell-40ce78bd799df3a6544a383ca4103b7c">,064</td>
                <td id="table-cell-6252f5634e190ca7843136885194f7c1">,096</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-338492b036828f789552697b3725665d">
                <td id="table-cell-548717574893a0dd9ccfe7ade4c74498">Positive</td>
                <td id="table-cell-380f447d956a77ac526ab8d96df80e2a">,051</td>
                <td id="table-cell-823410eb1af969158d563eb8a4ff3f58">,096</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-4a8f314437d7651502d04160d0c0fd7e">
                <td id="table-cell-ffe8203a993a6f00b003a40f371c1f32">Negative</td>
                <td id="table-cell-8212e3faf8c8b4e3cd8f5f026b1b7e04">-,064</td>
                <td id="table-cell-f27d7a189edb5adadda931af2930ce2e">-,072</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-9d2f73c0ac9cc03b34898a90adb12765">
                <td id="table-cell-7a0d2a04086b3604769894de64c8aa1b" colspan="2">Kolmogorov-Smirnov Z</td>
                <td id="table-cell-44c9b6f13c66b2e5058b93c42aceb276">,874</td>
                <td id="table-cell-0a9729c9194cc2f7f3765c3c2282a936">1,304</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-f728128f8919886c976bf143cb2d1566">
                <td id="table-cell-9d3b76f434bd3583b53aad182c22f9fc" colspan="2">Asymp. Sig. (2-tailed)</td>
                <td id="table-cell-b6de8618ee93a204ec37354df573d6ae">,429</td>
                <td id="table-cell-3d1aa85c7e001e4c6066c17da96abe2c">,067</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-fe4ece1eab77ba50db988a3125c0946a">
                <td id="table-cell-4cab06f3521ddc912609025c08d9cf6e" colspan="4">a. Test distribution is Normal.</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-1b67a50c16967b1f3fb5a07dac8904ef">
                <td id="table-cell-d2bd274209d9dcdb61f511eeffd9f4e7" colspan="4">b. Calculated from data.</td>
              </tr>
            </tbody>
          </table>
        </table-wrap>
        <p id="_paragraph-36">Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa nilai sig. Kontrol diri 0,429 dan 0,067 yang lebih besar dari 0,05 sehingga dinyatakan data terdistribusi normal</p>
        <p id="_paragraph-37">Berdasarkan hasil uji linieritas pada output SPSS menunjukkan bahwa:</p>
        <table-wrap id="_table-figure-2">
          <label>Table 2</label>
          <caption>
            <title>Hasil Uji Linieritas</title>
            <p id="_paragraph-39" />
          </caption>
          <table id="_table-2">
            <tbody>
              <tr id="table-row-014b32e40fd499f924ee4ddc3e9dca39">
                <td id="table-cell-2d1f668c545195f387e00c4b4e1c1717" colspan="8">ANOVA Table</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-ed8e7cfb8e5ebd077cf71cc8d51e08c8">
                <td id="table-cell-b05a4db08fe774b8193049e5b3e47679" colspan="3" />
                <td id="table-cell-4aacd9d4bf1eec3910797e2fb8b0303d">Sum of Squares</td>
                <td id="table-cell-c2f104a5c4df5eb3bac4cd6c8b4044ba">df</td>
                <td id="table-cell-cfb3c03125eeaae94995f316e9002669">Mean Square</td>
                <td id="table-cell-008f2667ee78a34e97b0e85a2d1a1cb7">F</td>
                <td id="table-cell-1f4d4c364068fb71b382f840e56c67b5">Sig.</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-56498032e9c18462a1fac4732207582f">
                <td id="table-cell-c9dc17095355b82946a7351363376794" rowspan="5">Kontrol Diri * Bullying</td>
                <td id="table-cell-38e3bcd43c9cf4150c427e108c0ae103" rowspan="3">Between Groups</td>
                <td id="table-cell-2aebef0a675170c5276947652c93d747">(Combined)</td>
                <td id="table-cell-87c4ae5ebfddb0b5ab84cc68f65e0f25">9446,838</td>
                <td id="table-cell-1c03ccc1a6ec56d2c333c8226cb97ba5">24</td>
                <td id="table-cell-c9abaa1beca28df82d1b0a1e0502804c">393,618</td>
                <td id="table-cell-a45347fee222cb1d278c7211e2852e2b">20,667</td>
                <td id="table-cell-76c4f815c2720908da64e96f42632562">,000</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-e8edef062fb715fc6f372bcc032e7035">
                <td id="table-cell-472009c5b827b7e44c51c2b229b1d769">Linearity</td>
                <td id="table-cell-e231021bbed9a4c82850213537ea3035">8396,601</td>
                <td id="table-cell-ad4e2f9e038c37c082714482461b06d0">1</td>
                <td id="table-cell-265e6f18d3d4534c56f4edb6ab3e68c4">8396,601</td>
                <td id="table-cell-47adab63b44770f86cf80209b108bd0e">440,874</td>
                <td id="table-cell-ff3dda29b56e17ff822e88ac628400dd">,000</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-aa27842f1e45ba70a08d8c4a44423f53">
                <td id="table-cell-bc8054c101e60c0cc76404b08fbe4b1b">Deviation from Linearity</td>
                <td id="table-cell-4f087cae46d040a8c03ca9b563ed237a">1050,237</td>
                <td id="table-cell-d3c86b58fd1515f9e6e7243f94525057">23</td>
                <td id="table-cell-096e2ff8432cf713d8deb4667da988a6">45,662</td>
                <td id="table-cell-dcf925a15b02bdcd76da2e8e01edb267">20,398</td>
                <td id="table-cell-2c081b092788e48716b63149a97ed14a">,071</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-e88c53d4231a9dabee23e45be91ea517">
                <td id="table-cell-e58bd1819e6703ccf7aff1dbd3341578" colspan="2">Within Groups</td>
                <td id="table-cell-5baada464225a6641a8383c0561eb9a0">3066,301</td>
                <td id="table-cell-02738512724f52d75237699ac2eae5d0">161</td>
                <td id="table-cell-0f009e7689551474f30895f96822eccb">19,045</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-51bdf0fda182ed4971f890b1beb64cac">
                <td id="table-cell-662e5ac4fdaa5b98bcf67bc3c81d0069" colspan="2">Total</td>
                <td id="table-cell-a486eb2635a38929649a7edd830566cc">12513,140</td>
                <td id="table-cell-877167ccc56c0e8eabf312cf1f9983d7">185</td>
              </tr>
            </tbody>
          </table>
        </table-wrap>
        <p id="_paragraph-40">Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa nilai sig. Linierity 0,000 yang lebih kecil dari 0,05 sehingga dinyatakan data dalam penelitian ini antara kontrol diri dan perilaku <italic id="_italic-129">bullying</italic> linier.</p>
        <p id="_paragraph-41">Sesudah memperoleh data hasil uji asumsi yang dinyatakan lolos makan, berikutnya peneliti melakukan pengujian hipotesis hubungan antara kontrol diri dan perilaku bullying siswa. Tabel 4.13 merupakan <italic id="_italic-130">koefisien pearson corelation</italic> :</p>
        <table-wrap id="_table-figure-3">
          <label>Table 3</label>
          <caption>
            <title>Uji Hipotesis</title>
            <p id="_paragraph-43" />
          </caption>
          <table id="_table-3">
            <tbody>
              <tr id="table-row-d4379bec9fe5759fc69136571795b2ab">
                <td id="table-cell-599f7e3f5d15fbbc2c10669410bc4770" colspan="4"> Correlations </td>
              </tr>
              <tr id="table-row-ef7d4e7470a3202a2c2956afd413c94a">
                <td id="table-cell-6b98a0a0885acb83981d203fc4d23941" colspan="2" />
                <td id="table-cell-308723411fce101217b08ccfd979e38f">Kontrol Diri</td>
                <td id="table-cell-c1254bec2b5d49d1b9c25c58cca994e2">Bullying</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-d9444831dbd1b08b80ebb750bae7d0bf">
                <td id="table-cell-733ef9ccd827474d24b53b86bd98e9e9">Kontrol Diri</td>
                <td id="table-cell-dc9c1fefa878cf08bc2118621c876f1c">Pearson Correlation</td>
                <td id="table-cell-24a281b4bbebe6d1841f5f823ecdbe80">1</td>
                <td id="table-cell-d7ec5e5569c927648c333a052fcaa7ff">-,819**</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-ef2c53ec7bf0e572dd0c6c7cd29eb05e">
                <td id="table-cell-8543b907e0dd2d95d6c0c3176d932ac9" />
                <td id="table-cell-083adeec470419fb2e2564e396a3516f">Sig. (2-tailed)</td>
                <td id="table-cell-625854b6c657bb585acea49e39101239">,000</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-a1ea94f5cb4ce286c150e7f53314e8a8">
                <td id="table-cell-621905706f2aa6958c2ebac6753c0cee" />
                <td id="table-cell-a73b13230fc32e20525218564a03c67f">N</td>
                <td id="table-cell-ba4a9d6ab22c77a523e6ed3a335f9f41">186</td>
                <td id="table-cell-e839ba5c45b8a94bc0ce69e5df66092b">186</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-bf4d05815c3c2bb824d74257be780e00">
                <td id="table-cell-202a1260b7677e2e812c991f419a0beb" rowspan="3">Bullying</td>
                <td id="table-cell-be162e34b864c98f5fa75fe7269fafec">Pearson Correlation</td>
                <td id="table-cell-dabac5fedce261e1d6dd69a457f94268">-,819**</td>
                <td id="table-cell-4d6d658ef2da3750ad331416a7896227">1</td>
                <td id="table-cell-f2e711fa660c967cd1a4bab53f324a86" />
              </tr>
              <tr id="table-row-18503f12cdca820f025a77331e6c5287">
                <td id="table-cell-9251817745c6d073270eb94e90bd6c7a">Sig. (2-tailed)</td>
                <td id="table-cell-cb8fdb5b8eb4b2799e352bedfc19a8b1">,000</td>
                <td id="table-cell-b2bfafeeceb363b0a065e4d08d8d1d7b" />
              </tr>
              <tr id="table-row-38870605aac2c1ff58f4b90927120596">
                <td id="table-cell-c62e2bc1f63f749bfd6229daae883be3">N</td>
                <td id="table-cell-e7abde80b72fdf9986948c258a265c16">186</td>
                <td id="table-cell-ab2a6c980e437e5414d263644dd3ba5c">186</td>
                <td id="table-cell-24bd8c3850277491795eb7148dae70dd" />
              </tr>
              <tr id="table-row-5c946a600fa9f25a594ca9878b80c7f4">
                <td id="table-cell-8f0d713f6dafa37c5ad46ba268e4517b" colspan="4">**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).</td>
              </tr>
            </tbody>
          </table>
        </table-wrap>
        <p id="_paragraph-44">Sesuai dengan hasil koefisien<italic id="_italic-138"> pearson corelation</italic> menunjukkan nilai signifikansi (2-tailed) yaitu 0,000 yang lebih kecil dari 0,05 sehingga bisa dinyatakan terdapat korelasi antara kontrol diri dengan perilaku <italic id="_italic-139">bullying</italic>. <italic id="_italic-140">Correlation coeficient</italic> (koefisien korelasi) menunjukkan nilai -0,819 yang berarti arah korelasi antara dua variabel yang negatif korelasi antara konsep diri dan perilaku <italic id="_italic-141">bullying</italic> dengan kategori yang sangat kuat.</p>
        <table-wrap id="_table-figure-4">
          <label>Table 4</label>
          <caption>
            <title>Koefisien Determinasi</title>
            <p id="_paragraph-46" />
          </caption>
          <table id="_table-4">
            <tbody>
              <tr id="table-row-251985efd4d9806b0a73edfe28ffe651">
                <td id="table-cell-b40238813bb1d7721fdffd2290223b80" colspan="5"> Model Summary </td>
              </tr>
              <tr id="table-row-3bcc8361ea7b023d93ab1d73b68f6800">
                <td id="table-cell-11e49f6fd79f29f0eb25565341159110">Model</td>
                <td id="table-cell-96e9861319ddc5c6dd359d8c537e6113">R</td>
                <td id="table-cell-6255de3a23edfd587f43cb1521ddf24c">R Square</td>
                <td id="table-cell-e63dc7c70ea97c8f2297e11d3813d123">Adjusted R Square</td>
                <td id="table-cell-17e63d43c717831c5dd3643aa5d15d2c">Std. Error of the Estimate</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-c5f1df05ed8ea2232a95304f3164df58">
                <td id="table-cell-11a284ebe27e0e32b3a0eec2a5127878">1</td>
                <td id="table-cell-5cd69cb2455a15c31b53ed272e65d46e">,819a</td>
                <td id="table-cell-6f41db4365929eb69ae8a7aa97a8594a">,671</td>
                <td id="table-cell-e6bb77b1dbff4461376b869ca89387db">,669</td>
                <td id="table-cell-f85037da20f6bd29a61ba08011706b7d">3,830</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-4d871ed22bf2fc9d739ba18e710c4335">
                <td id="table-cell-5edc6d2f3672ee398d351fb75069c557" colspan="5">a. Predictors: (Constant), Kontrol Diri</td>
              </tr>
            </tbody>
          </table>
        </table-wrap>
        <p id="_paragraph-47">Nilai koeefisien determinasi atau r square (R<sup id="_superscript-7">2</sup>) yaitu sebesar 0,671 atau 67,1%, yang artinya kontrol diri memiliki pengaruh sebesar 67,1% terhadap perilaku <italic id="_italic-149">bullying</italic>. Sedangkan sisanya yaitu sebesar 21,9% dipengaruhi oleh variabel lain di luar penelitian ini.</p>
      </sec>
      <sec id="heading-bd490dc0f5754cc558ddd523e8692d5b">
        <title>Pembahasan</title>
        <p id="_paragraph-48">Sesuai dengan pengujian statistik dengan memakai <italic id="_italic-150">Pearson</italic><italic id="_italic-151"> Crrelation</italic> dengan taraf keyakinan 95 persen didapat nilai signifikansi (2-tailed) 0,000 yang lebih kecil dibanding α=0,05. Oleh karena itu, bisa disebutkan, terdapat korelasi antara kontrol diri dengan perilaku <italic id="_italic-152">bullying </italic>pada siswa SMP X di Sidoarjo. Naik turunnya kontrol diri diikuti oleh naik turunnya perilaku <italic id="_italic-153">bullying</italic>. Jika siswa memiliki kontrol diri yang tinggi maka perilaku <italic id="_italic-154">bullying</italic> akan turun. Begitu juga sebaliknya, jika siswa mempunyai kontrol diri yang rendah maka perilaku <italic id="_italic-155">bullying </italic>juga akan naik.</p>
        <p id="_paragraph-49">Kontrol diri adalah suatu kecakapan individu yang ada dilingkungan sekitar. Kontrol diri yang tinggi atau rendah akan menentukan perilaku <italic id="_italic-156">bullying</italic>. Kecenderungan sesorang untuk melakukan perilaku <italic id="_italic-157">bullying</italic> ditentukan oleh kemampuan individu dalam mengontrol dirinya.</p>
        <p id="_paragraph-50">Penelitian Salmi, Hariko, dan Afdal menyatakan ada korelasi negatif yang nyata antara kontrol diri dan perilaku <italic id="_italic-158">bullying</italic>[17]. Kontrol diri yang tinggi akan diikut oleh rendahnya perilaku bullying. Sesuai dengan hasil empiris, pengujian statistik dan hasil teoritis serta riset sebelumnya, bisa diketahui bahwa terdapatnya korelasi antara kontrol diri dan perilaku <italic id="_italic-159">bullying</italic> disebabkan oleh kontrol siswa atas dirinya. Siswa yang mampu mengontrol perilaku diri, kognitif dan keputusannya akan memiliki kecenderungan untuk tidak melakukan perilaku <italic id="_italic-160">bullying</italic>. Sementara itu, siswa yang tidak mampu mengontrol dirinya akan cenderung melakukan perilaku <italic id="_italic-161">bullying</italic>.</p>
        <p id="_paragraph-51">Denson menyatakan saat dorongan untuk melakukan penyimpangan atau tindakan yang agresif sedang berada dipuncaknya, kontrol diri bisa mendorong individu untuk melakukan penurunan sikap agresifnya. Dimensi-dimensi yang terdapat pada kontrol diri memperlihatkan bahwa masing-masing orang yang mempunyai kontrol diri akan mempunyai kecenderungan memperlihatkan kedisiplinan, senantiasa berupaya mawas diri, wasapada mempunyai suatu kebiasaan yang bijaksana, mempunyai aturan kerja yang baik, dan menunjukkan konsistensi. Dalam rangka melakukan pencegahan maupun meminimalisasi munculnya perilaku <italic id="_italic-162">bullying </italic>di sekolah diantaranya dibutuhkan kapasitas dalam pengontrolan diri ketika bersosialisasi dan berhubungan dengan lingkungan sekolah.</p>
        <p id="_paragraph-52">Siswa yang memiliki kontrol perilaku yang baik akan siap menerima suatu tanggapan yang tidak menyenangkan secara langsung. Misalnya ketika seorang siswa terciprat air minum secara tidak sengaja oleh temannya, siswa tersebut tidak merasa tersinggung dan memarahi temannya, melainkan memaafkannya. Sehingga hal ini menurunkan perilaku <italic id="_italic-163">bullying</italic>.</p>
        <p id="_paragraph-53">Sementara itu siswa yang memiliki kontrol kognitif mampu mengolah informasi yang tidak diinginkan dengan cara menginterpretasi, menilai, atau menghubungkan suatu kejadian dalam suatu kerangka kognitif sebagai adaptasi psikologis atau untuk mengurangi tekanan. Misalnya saat siswa melihat ada temannya yang memiliki bentuk fisik yang kurang baik di hadapannya, siswa tersebut tidak menghina siswa tersebut, melainkan menyadari bahwa dirinya pun juga memiliki kekurangan di mata orang lain. Sehingga kontrol kognitif yang dimiliki siswa dapat mengurangi perilaku <italic id="_italic-164">bullying</italic>.</p>
        <p id="_paragraph-54">Sedangkan siswa yang memiliki kontrol keputusan akan mampu memilih suatu tindakan berdasarkan sesuaitu yang diyakini atau disetujui. Misalnya saat ada seorang siswa yang memiliki teman yang lumayan jahil, siswa tersebut tidak membalas dengan menyebarkan hal yang memalukan bagi temannya tersebut atau melakukan kejahilan yang lebih parah dari temannya untuk membuat temannya tersebut kapok. Akan tetapi siswa tersebut tidak menghiraukan temannya karena siswa tersebut yakin bahwa jika dengan mengabaikan perilaku jahil temannya tersebut, maka temannya akan lelah dan bosan untuk menjahili siswa tersebut lagi. Sehingga kontrol keputusan yang dimiliki oleh siswa tersebut dapat menurunkan perilaku <italic id="_italic-165">bullying</italic>. Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi kontrol diri siswa maka semakin rendah perilaku <italic id="_italic-166">bullying</italic>nya, begitu pula sebaliknya semakin rendah kontrol siswa maka semakin tinggi perilaku <italic id="_italic-167">bullying</italic>nya.</p>
        <p id="_paragraph-55">Hasil riset ini menyebutkan bahwa terdapat 169 orang (66,8%) mempunyai kontrol diri yang sedang. Sedangkan responden yang berkategori kontrol diri rendah terdapat 10 orang (5,4%), serta responden berkategori kontrol diri tinggi terdapat 7 orang (3,8%). Jumlah responden dengan kontrol diri kategori sedang lebih besar dibandingkan dengan jumlah responden dengan kontrol diri yang tinggi atau rendah. Hal tersebut menunjukkan bahwa siswa dalam penelitian ini memiliki kecenderungan kondtrol diri yang sednag. Kontrol diri ditunjukkan dengan tiga aspek yaitu perilaku kontrol diri, kognitif dan keputusan.</p>
        <p id="_paragraph-56">Aspek yang dengan rata-rata lebih tinggi adalah aspek kontrol kognitif dibanding aspek perilaku kontrol diri dan aspek keputusan. Hal ini menunjukkan bahwa siswa cenderung untuk memahami berbagai stimulus, menilai suatu keadaan lingkungan, dan melakukan antisipasi terhadap stimulus yang tidak diharapkan dibanding aspek kontrol diri yang lain. Siswa secara kognitif lebih mampu mengontrol diri dibanding dengan suatu pengambilan keputusan atau mengendalikan diri sendiri.</p>
        <p id="_paragraph-57">Di era informasi dan teknologi, siswa harus mampu mengendalikan diri sebagai pemilik keputusan terhadap semua perilakunya. Ketika melakukan penetapan kontrol diri itu, siswa mendapat pengaruh dari interaksi dengan lingkungan sosialnya, yang nyata ataupun yang maya (medsos). Siswa yang memiliki kontrol diri yang baik cenderung tidak melakukan perilaku <italic id="_italic-168">bullying</italic>.</p>
        <p id="_paragraph-58">Hasil penelitian ini menyatakan bahwa terdapat 126 orang (67,7%) memiliki perilaku <italic id="_italic-169">bullying </italic>rendah dari keseluruhan jumlah sampel. Sementara responden dengan kategori perilaku <italic id="_italic-170">bullying</italic> sedang ada orang (30,3%), dan tinggi hanya 3 orang (1,6%). Jumlah perilaku <italic id="_italic-171">bullying</italic> dengan kategori rendah lebih besar dibandingkan dengan jumlah perilaku <italic id="_italic-172">bullying </italic>dengan sedang, dan tinggi. Hal tersebut menunjukkan bahwa siswa dalam penelitian ini memiliki kecenderungan rendah berperilaku <italic id="_italic-173">bullying</italic>. Perilaku <italic id="_italic-174">bullying </italic>ditunjukkan dengan tiga aspek yaitu verbal fisik, dan tidak langsung.</p>
        <p id="_paragraph-59">Aspek yang dengan rata-rata lebih tinggi adalah aspek verbal dibanding aspek fisik dan aspek tidak langsung. Hal ini menunjukkan bahwa siswa cenderung untuk melakukan memberi julukan, ejekan, dan ucapan yang kasar dibanding perilaku <italic id="_italic-175">bullying</italic> yang lain. Siswa mengganggap bahwa perialku tersebut biasa dilakukan padahal ketiga perilaku terebut sangat menyakitkan dan berdampak psikologis pada korbannya.</p>
        <p id="_paragraph-60"><italic id="_italic-176">B</italic><italic id="_italic-177">ullying</italic> merupakan bentuk perilaku agresif yang dilakukan secara terencana, berulang-ulang, dalam periode waktu tertentu, baik secara individu maupun secara kelompok dengan tujuan untuk menciptakan tekanan psikologis bagi orang lain, untuk mendapatkan pengakuan dan kepuasan bagi pelakunya. Riset di Swedia tentang pengaruh perilaku <italic id="_italic-178">bullying</italic>terhadap korban memaparkan bahwa remaja yang ketika berumur 16 tahun pernah mendapatkan perilaku <italic id="_italic-179">bullying, </italic>penghargaan dirinya (<italic id="_italic-180">self esteem</italic><italic id="_italic-181">)</italic>akan menurun dan tingkat depresinya meningkat. Korban perilaku <italic id="_italic-182">bullying </italic>akan mengalami kecenderungan gejala kecemasannya meningkat, dan mengalami depresi, rendahnya <italic id="_italic-183">self esteem,</italic>serta dan <italic id="_italic-184">skill</italic> sosial yang jelek.</p>
        <p id="_paragraph-61">Riset ini memiliki keterbatasan mengingat keterbatasan tenaga dan waktu yang menyebabkan penelitian ini tidak dapat dilakukan dengan maksimal. Keterbatasan lain dalam penelitian ini adalah sedikitnya jumlah sampel yang dapat mempengaruhi hasil uji statistik. Selain itu adanya keterbatasan variabel independen sebagai penentu variabel dependen. Dalam penelitian ini hanya ada satu variabel independen, yakni kontrol diri.</p>
      </sec>
    </sec>
    <sec id="heading-d2dc0ca9914490361f1ddf81ed7e7026">
      <title>Simpulan</title>
      <p id="_paragraph-62">Sesuai dengan paparan hasil riset, bisa ditarik simpulan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara kontrol diri dengan perilaku <italic id="_italic-185">bullying </italic>pada siswa SMP X di Sidoarjo. Kontrol diri siswa yang meningkat akan berdampak pada penurunan perilaku <italic id="_italic-186">bullying</italic>, begitu pula dengan adanya penurunan kontrol diri siswa akan mengakibatkan terjadinya peningkatan perilaku <italic id="_italic-187">bullying</italic>. Kontrol diri siswa SMP X di Sidoarjo tergolong sedang, sementara perilaku <italic id="_italic-188">bullying</italic> di SMP X di Sidoarjo tergolong rendah.</p>
      <p id="_paragraph-63">Mengingat jumlah sampel penelitian ini terbatas, maka peneliti berikutnya disarankan agar melakukan penelitian dengan menambah total sampel agar dapat menghasilkan hasil yang maksimal. Selain itu variabel independen penelitian ini hanya satu, yakni kontrol diri, sedangkan masih banyak faktor lain yang diduga dapat berpengaruh terhadap perilaku bullying seperti latar belakang keluarga, lingkungan pergaulan, kepribadian, dan lain-lain.</p>
    </sec>
  </body>
  <back />
</article>