<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?>
<!DOCTYPE article PUBLIC "-//NLM//DTD JATS (Z39.96) Journal Publishing DTD v1.1d1 20130915//EN" "JATS-journalpublishing1.dtd">
<article xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink">
  <front>
    <journal-meta id="journal-meta-1">
      <journal-id journal-id-type="nlm-ta">Typeset</journal-id>
      <journal-id journal-id-type="publisher-id">Typeset</journal-id>
      <journal-id journal-id-type="journal_submission_guidelines">None</journal-id>
      <journal-title-group>
        <journal-title>No Template</journal-title>
      </journal-title-group>
      <issn publication-format="print"/>
    </journal-meta>
    <article-meta id="article-meta-1">
      <title-group>
        <article-title id="at-26cc79977b24">
          <bold id="strong-1">Planting Islamic Values In The father’s Upbringing As a Single Parent</bold>
        </article-title>
      </title-group>
      <contrib-group>
        <contrib contrib-type="author" corresp="yes">
          <name id="n-3534dd58469c">
            <given-names>Mardhiana Anggraini</given-names>
          </name>
          <email>mardhianaanggraini@gmail.com</email>
          <xref id="x-447c2b4b8fc8" rid="a-960808839c7c" ref-type="aff">false</xref>
        </contrib>
        <contrib contrib-type="author" corresp="yes">
          <name id="n-fc785314e328">
            <given-names>Yusmi Dwi Putri</given-names>
          </name>
          <email>yusmidwiputri1453@gmail.com</email>
          <xref id="x-a46dd6b3c1c7" rid="a-9a2b0e91925c" ref-type="aff">1</xref>
        </contrib>
        <contrib contrib-type="author" corresp="yes">
          <name id="n-e67db8ab7b0d">
            <given-names>Permata Ashfi Raihana</given-names>
          </name>
          <email>par192@ums.ac.id</email>
          <xref id="x-444ef49862d3" rid="a-9a2b0e91925c" ref-type="aff">1</xref>
        </contrib>
        <contrib contrib-type="author" corresp="yes">
          <name id="n-bb86f29aab4b">
            <given-names>Susatyo Yuwono</given-names>
          </name>
          <email>susatyo.yuwono@ums.ac.id</email>
          <xref id="x-fee1f2610a6a" rid="a-9a2b0e91925c" ref-type="aff">1</xref>
        </contrib>
        <aff id="a-9a2b0e91925c">
          <institution>Fakultas Psikologi, Universitas Muhammadiyah Surakarta</institution>
          <country country="ID">Indonesia</country>
        </aff>
      </contrib-group>
      <permissions/>
      <abstract id="abstract-9d576787d60f">
        <title id="abstract-title-bb8a40164cc6">Abstract</title>
        <p id="paragraph-df7b1d0a2d99"> The ideal family consists of father, mother and child, but it is different if there is spouse death or divorce so father or mother becomes single parent. Nevertheless, a single father is still optimize the nurturing to his children. This study aims to explore the internalization of Islamic values of a single father parenting. This study used qualitative methods with a phenomenological approach. The research subjects consisted of 6 single fathers. Data is collected with interview. Analysis is done by descriptive analysis. The results show that the values include religy, self value, responsible for the tasks, and social interaction. It can be concluded that a single father continues to carry out parenting by applying Islamic values. The renewal of thsis research is for fathers to optimize their function in educating their children and providing an understanding of good parenting patterns.<bold id="strong-3"/></p>
      </abstract>
      <kwd-group id="kwd-group-1">
        <title>Keywords</title>
        <kwd>islamic values</kwd>
        <kwd>parenting</kwd>
        <kwd>single father</kwd>
      </kwd-group>
    </article-meta>
  </front>
  <body>
    <sec>
      <title id="t-909e95a513a0">Introduction</title>
      <p id="p-92e3a5e2e42c"> Keluarga merupakan kelompok terkecil yang memungkinkan individu melakukan interaksi pertama sehingga keluarga merupakan sistem sosial pertama sebelum individu memasuki sistem sosial yang lebih besar.Koerner dan Fitzpatrick (2013) menjelaskan bahwa kajian keluarga dapat ditinjau secara struktural, fungsional, dan transaksional.Secara struktural, keluarga merupakan kehadiran atau ketidakhadiran anggota keluarga, sedangkan jika ditinjau secara fungsional maka keluarga menekankan pada tugas-tugas dan fungsi-fungsi psikokososial dari para anggota di dalamnya yang mencakup perawatan, sosialisasi pada anak, dukungan emosi dan materi, dan pemenuhan peran-peran tertentu.Selain itu, secara transaksional keluarga memiliki peran dalam mengembangkan keintiman melalui perilaku-perilaku yang memunculkan rasa identitas sebagai sebuah keluarga. Oleh karena itu, dalam keluarga dibutuhkan hubungan antara individu-individu dalam kelompok untuk selalu berinteraksi, saling membantu, dan mendukung apa yang menjadi keinginan sekaligus tujuannya sesuai peran masing-masing yang dimiliki.</p>
      <p id="p-9eaf88d3b5fd">Setiap individu pasti mendambakan sebuah keluarga yang sempurna dan lengkap.Keluarga idealnya terdiri dari ayah, ibu, dan anak yang memiliki peran masing-masing di dalamnya. Kedua orang tualah yang menjadi peletak dasar utama dalam pendidikan seorang anak, apabila pendidikannya baik maka akan lahirlah generasi-generasi yang baik dan apabila pendidikannya tidak baik maka akan lahir generasi-generasi yang tidak baik pula. Hal ini sejalan dengan sabda Rasul, artinya: “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikan anak tersebut beragama Yahudi, Nasrani ataupun Majusi” (HR. Bukhari, Abu Daud, Ahmad). Namun kondisi seperti itu akan berbeda jika adanya kematian pasangan atau terjadinya konflik dalam keluarga, khususnya permasalahan hubungan suami istri yang menyebabkan timbulnya perceraian. Khusus pada kasus perceraian, Badan Pusat Statistik mencatat bahwa tingkat perceraian di Indonesia pada tahun 2013 sampai 2015 mengalami peningkatan. Pada tahun 2013 terdapat 324.247 kasus perceraian.Selanjutnya di tahun 2014 terdapat 344.237 kasus, sedangkan di tahun 2015 terdapat 347.256 kasus. Khusus di provinsi Jawa Tengah, kasus perceraian sebanyak 3,2 % dari prosentase jumlah kasus perceraian skala nasional terjadi di tahun 2013. Selanjutnya di tahun 2014 sebanyak 3,43%, sedangkan di tahun 2015 sebanyak 3,39% dari prosentase kasus perceraian skala nasional.</p>
      <p id="p-08229867a58d">Salah satu dampak yang ditimbulkan dari meninggalnya pasangan atau perceraian tersebut adalah perubahan struktur keluarga yang menjadikan seorang ayah atau ibu menjadi orang tua tunggal.Dowd (1997) menerangkan bahwa orang tua tunggal memiliki sebagian besar tanggung jawab sehari-hari dalam membesarkan anak-anak.Hal itu mengindikasikan bahwa seorang ayah atau ibu yang menjadi orang tua tunggal mengambil alih peran dalam keluarga yang dijalankan oleh pasangan sebelumnya.Selain perubahan struktur yang berdampak pada peran yang harus dijalani oleh orang tua tunggal, hal itu juga berdampak pada anak-anak.Oriyomi (Stephen dan Udisi, 2016) mengungkapkan bahwa dampak dari perpisahan orang tua baik karena meninggal atau perceraian meninggalkan dampak yang lebih besar bagi anak-anak karena perpisahan orang tua meninggalkan mereka dalam bekas luka yang mendalam. Oleh karenanya, menjadi orang tua tunggal adalah tugas yang sangat sulit dan menantang karena adanya peran lain yang mesti dijalani dan adanya anak-anak yang harus tetap melanjutkan kehidupannya.</p>
      <p id="p-4ee7f201e6b2">Menurut Scanzoni dan Scanzoni (Ihromi, 1999), pria diharapkan melakukan peran yang bersifat instrumental yaitu berorientasi pada pekerjaan untuk memperoleh nafkah<italic id="emphasis-1"> (task oriented)</italic>, sedang wanita harus melakukan peran yang bersifat ekspresif, yaitu berorientasi pada emosi manusia serta hubungannya dengan orang lain <italic id="emphasis-2">(people oriented)</italic>. Oleh karena itu seorang laki-laki disosialisasikan untuk menjadi lebih aktif dan tegas, sedang anak perempuan lebih pasif dan tergantung.Hal ini disebabkan pria harus bersaing dalam masyarakat yang bekerja, sedang wanita menjadi istri dan ibu dalam keluarganya.Dalam teori ini tampak bahwa pembagian tugas antara istri dan suami memiliki tugas masing-masing dalam keluarga. Selain hal tersebut, Islam juga memandang bahwa ibu merupakan tempat belajar utama <italic id="emphasis-3">(madrasatul ula) bahkan </italic> sejak dalam kandungan sang ibu sudah mendidik anaknya. Pada saat sang ibu marah, anak yang dalam kandungan pun akan merespon marah tersebut dan berdampak tak baik bagi perkembangan otak anak. Demikian juga saat sang ibu membaca Al-Qur’an, maka anak dalam kandungan pun meresponnya dengan baik dan membentuk sifat yang baik pula. Makanya jangan heran jika pendidikan pertama itu dilakukan oleh ibu (Nurhayati dan Syahrizal, 2015).Namun hal itu tidak dijumpai jika adanya kematian ibu atau anak yang mengikuti ayahnya saat orangtuanya bercerai sehingga menjadikan ayah sebagai orang tua tunggal dalam keluarga. Meski begitu, Alqur'an juga menegaskan bahwa ayah juga menjadi pendidik dalam keluarga sebagaimana firman Allah SWT, <italic id="emphasis-4">"Quu anfusakum waahlikum naaran"</italic> (jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka). </p>
      <p id="p-12e75d4178ae">Keadaan sebagai orang tua tunggal bukanlah suatu kondisi yang diharapkan dan dianggap merepotkan bagi seorang ayah.Hal ini dibuktikan dengan sedikitnya jumlah laki-laki yang bertahan untuk berperan menjadi ayah tunggal di tengah-tengah masyarakat (Defrain, 2003).Meskipun begitu, Frank Fustenberg dan Kathleen Haris (Suwinita dan Marheni, 2015) mengungkap bahwa pengasuhan ayah dapat membantu anak dalam menghadapi masalah hidupnya bila ayah mengembangkan model pengasuhan yang positif.Morman &amp; Floyd (2006) menyatakan bahwa peran sebagai ayah adalah memberikan kasih sayang, bersedia untuk mengasuh, dan berperan langsung dalam pengasuhan anak.Hal tersebut dapat mengatasi anak untuk dapat berpikir secara rasional dan emosional sehingga berpengaruh positif juga pada kemampuan hubungan sosial anak. Sedangkan hal lain dapat berbanding terbalik atau menimbulkan efek negatif apabila dalam praktik pengasuhannya ayah menunjukkan perilaku negatif, melibatkan hukuman fisik (Hidayati, Kaloeti, dan Karyono, 2011).</p>
      <p id="p-fa9e2af5c931">Fenomena di masyarakat tentang ayah tunggal yang berperan dalam mengasuh anak menjadi menarik untuk diteliti. Ketidaksesuaian dengan nilai yang selama ini ada dan kebiasaan yang sudah berlangsung lama di masyarakat bahwa ibu lah yang berperan dalam mengasuh anak.Hal ini menjadi peran tambahan bagi ayah selain peran utama sebagai pencari nafkah bagi keluarga. Berdasarkan fenomena diatas, maka peneliti tertarik untuk melihat “ Pola pengasuhan ayah sebagai orang tua tunggal berdasarkan penanaman nilai-nilai Islam”.</p>
    </sec>
    <sec>
      <title id="t-0cb0be94142d">Metode</title>
      <p id="t-42b415ea2ba5">Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologis. Gejala penelitian yang diungkap adalah penanaman nilai-nilai Islam pada pengasuhan ayah sebagai orang tua tunggal. Partisipan yang dilibatkan adalah laki-laki berusia antara 30-70 tahun, duda selama minimal 2 tahun terakhir, beragama Islam, dan tinggal bersama dengan anaknya. Jumlah partisipan dalam penelitian ini sebanyak 6 orang. </p>
      <p id="p-06f65b8a90e0">Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara. Analisis yang dilakukan adalah menggunakan analisis deskriptif fenomenologis, yaitu dengan melakukan proses coding data, kemudian melakukan kategorisasi, dan rekategorisasi atas tema-tema yang muncul, lalu melakukan interpretasi atas kategori-kategori yang ditemukan menjadi sebuah rangkaian model.</p>
      <p id="p-53fcd546e0bd">
        <bold id="s-a445beae81e2"> </bold>
      </p>
    </sec>
    <sec>
      <title id="t-afbfe2b34109">Results</title>
      <p id="p-e1d69e30f381"> Gambar 1. </p>
      <p id="p-38b6461d35ed">Demografi Informan Penelitian<bold id="s-502fa1574e3b"/></p>
      <p id="p-8ec3b6505a2b">
        <bold id="s-5952004eaca2"> </bold>
      </p>
      <fig id="f-1f782fd2a22d" orientation="portrait" fig-type="graphic" position="anchor">
        <label>Figure 1 </label>
        <caption id="c-8f333c369c30">
          <title id="t-3c5b12c862bf"/>
        </caption>
        <graphic id="g-dc8b04217a1c"/>
      </fig>
      <p id="p-ec4aadf9fd25">
        <bold id="s-6b61f84a9e6a"> </bold>
      </p>
      <p id="p-987674565615">
        <bold id="strong-4"> </bold>
      </p>
      <p id="p-97b7ba0eef46">
        <bold id="strong-5"> </bold>
      </p>
      <p id="paragraph-7">
        <bold id="strong-6"> </bold>
      </p>
      <p id="paragraph-8">
        <bold id="strong-7"> </bold>
      </p>
      <p id="paragraph-9">
        <bold id="strong-8"> </bold>
      </p>
      <p id="paragraph-10">
        <bold id="strong-9"> </bold>
      </p>
      <p id="paragraph-11">Gambar 2. Penanaman Nilai-nilai Islam pada Pengasuhan Ayah sebagai Orang Tua Tunggal</p>
      <fig id="f-fc4cb18e251f" orientation="portrait" fig-type="graphic" position="anchor">
        <label>Figure 2 </label>
        <caption id="c-9c81e9379a24">
          <title id="t-0e4609c54d9f"/>
        </caption>
        <graphic id="g-38c85a9e1b6e"/>
      </fig>
      <p id="paragraph-12"> </p>
      <fig id="f-c9717e8abf33" orientation="portrait" fig-type="graphic" position="anchor">
        <label>Figure 3 </label>
        <caption id="c-fda92a01cb9b">
          <title id="t-fd9e56d95d8e"/>
        </caption>
        <graphic id="g-584dc0138d16"/>
      </fig>
      <p id="paragraph-13">
        <bold id="strong-10"> </bold>
      </p>
      <p id="paragraph-14">
        <bold id="strong-11"> </bold>
      </p>
      <p id="paragraph-15">
        <bold id="strong-12"> </bold>
      </p>
      <p id="paragraph-16">
        <bold id="strong-13"> </bold>
      </p>
      <p id="paragraph-17">Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, berikut adalah rekapitulasi hasil penanaman nilai-nilai Islam pada pengasuhan ayah sebagai orang tua tunggal. </p>
      <p id="paragraph-18">Tabel 3. Rekapitulasi Penanaman Nilai-nilai Islam pada Pengasuhan Ayah sebagai Orang Tua Tunggal </p>
      <table-wrap id="tw-0bdd3e3c75b7" orientation="portrait">
        <label>Table 1</label>
        <caption id="c-89e3fbe72321">
          <title id="t-a0c06134e301"/>
        </caption>
        <table id="table-1" rules="rows">
          <colgroup/>
          <tbody id="table-section-1">
            <tr id="table-row-1">
              <td id="table-cell-1" align="left">
                <p id="paragraph-19">Nilai-nilai</p>
              </td>
              <td id="table-cell-2" align="left">
                <p id="paragraph-20">Kategori</p>
              </td>
              <td id="table-cell-3" align="left">
                <p id="paragraph-21">Informan</p>
              </td>
            </tr>
            <tr id="table-row-2">
              <td id="table-cell-4" rowspan="5" align="left">
                <p id="paragraph-22">Nilai agama</p>
              </td>
              <td id="table-cell-5" align="left">
                <p id="paragraph-23">Sholat, puasa, dan ibadah-ibadah lainnya </p>
              </td>
              <td id="table-cell-6" align="left">
                <p id="paragraph-24">G, H, A, Y, SG, T</p>
              </td>
            </tr>
            <tr id="table-row-3">
              <td id="table-cell-7" align="left">
                <p id="paragraph-25">Hormati ibu dan ayah</p>
              </td>
              <td id="table-cell-8" align="left">
                <p id="paragraph-26">H, A, SG</p>
              </td>
            </tr>
            <tr id="table-row-4">
              <td id="table-cell-9" align="left">
                <p id="paragraph-27">Penerimaan terhadap kekurangan/ujian</p>
              </td>
              <td id="table-cell-10" align="left">
                <p id="paragraph-28">A, SG</p>
              </td>
            </tr>
            <tr id="table-row-5">
              <td id="table-cell-11" align="left">
                <p id="paragraph-29">Bersyukur dan merasa cukup</p>
              </td>
              <td id="table-cell-12" align="left">
                <p id="paragraph-30">SG</p>
              </td>
            </tr>
            <tr id="table-row-6">
              <td id="table-cell-13" align="left">
                <p id="paragraph-31">Kejujuran</p>
              </td>
              <td id="table-cell-14" align="left">
                <p id="paragraph-32">G, Y</p>
              </td>
            </tr>
            <tr id="table-row-7">
              <td id="table-cell-15" align="left">
                <p id="paragraph-33">Nilai pikir</p>
              </td>
              <td id="table-cell-16" align="left">
                <p id="paragraph-34">Berprestasi</p>
              </td>
              <td id="table-cell-17" align="left">
                <p id="paragraph-35">H</p>
              </td>
            </tr>
            <tr id="table-row-8">
              <td id="table-cell-18" rowspan="3" align="left">
                <p id="paragraph-36">Nilai diri/rasa</p>
              </td>
              <td id="table-cell-19" align="left">
                <p id="paragraph-37">Percaya diri</p>
              </td>
              <td id="table-cell-20" align="left">
                <p id="paragraph-38">H</p>
              </td>
            </tr>
            <tr id="table-row-9">
              <td id="table-cell-21" align="left">
                <p id="paragraph-39">Sikap Optimis</p>
              </td>
              <td id="table-cell-22" align="left">
                <p id="paragraph-40">H, A</p>
              </td>
            </tr>
            <tr id="table-row-10">
              <td id="table-cell-23" align="left">
                <p id="paragraph-41">Sopan santun</p>
              </td>
              <td id="table-cell-24" align="left">
                <p id="paragraph-42">T, Y</p>
              </td>
            </tr>
            <tr id="table-row-11">
              <td id="table-cell-25" rowspan="2" align="left">
                <p id="paragraph-43">Nilai terhadap tugas (karsa dan kerja)</p>
              </td>
              <td id="table-cell-26" align="left">
                <p id="paragraph-44">Mandiri dan bertanggung jawab pada tugas sehari-hari</p>
              </td>
              <td id="table-cell-27" align="left">
                <p id="paragraph-45">H, A, T</p>
              </td>
            </tr>
            <tr id="table-row-12">
              <td id="table-cell-28" align="left">
                <p id="paragraph-46">Kerja keras / Etos kerja</p>
              </td>
              <td id="table-cell-29" align="left">
                <p id="paragraph-47">A, H, </p>
              </td>
            </tr>
            <tr id="table-row-13">
              <td id="table-cell-30" rowspan="6" align="left">
                <p id="paragraph-48">Nilai sosial/ kema yarakatan</p>
              </td>
              <td id="table-cell-31" align="left">
                <p id="paragraph-49">Srawung dengan orang lain</p>
              </td>
              <td id="table-cell-32" align="left">
                <p id="paragraph-50">Y, T</p>
              </td>
            </tr>
            <tr id="table-row-14">
              <td id="table-cell-33" align="left">
                <p id="paragraph-51">Gotong royong</p>
              </td>
              <td id="table-cell-34" align="left">
                <p id="paragraph-52">SG</p>
              </td>
            </tr>
            <tr id="table-row-15">
              <td id="table-cell-35" align="left">
                <p id="paragraph-53">Kerja sama dan tolong-menolong</p>
              </td>
              <td id="table-cell-36" align="left">
                <p id="paragraph-54">A, T</p>
              </td>
            </tr>
            <tr id="table-row-16">
              <td id="table-cell-37" align="left">
                <p id="paragraph-55">Hidup rukun</p>
              </td>
              <td id="table-cell-38" align="left">
                <p id="paragraph-56">A, SG</p>
              </td>
            </tr>
            <tr id="table-row-17">
              <td id="table-cell-39" align="left">
                <p id="paragraph-57">Patuh pada orang yang lebih tua</p>
              </td>
              <td id="table-cell-40" align="left">
                <p id="paragraph-58">SG</p>
              </td>
            </tr>
            <tr id="table-row-18">
              <td id="table-cell-41" align="left">
                <p id="paragraph-59">Bermanfaat untuk orang lain</p>
              </td>
              <td id="table-cell-42" align="left">
                <p id="paragraph-60">T</p>
              </td>
            </tr>
          </tbody>
        </table>
      </table-wrap>
      <p id="paragraph-61">Dari penelitian ini dapat diketahui bahwa nilai-nilai Islam yang ditanamkan ayah tunggal meliputi nilai agama, pikir, diri/rasa, tugas (karsa dan kerja), dan sosial/kemasyarakatan.</p>
      <p id="paragraph-62">Pada nilai agama, ayah tunggal G, H, A, Y, SG, dan T menanamkan nilai-nilai berupa solat, puasa, dan ibadah-ibadah lainnya. Ayah tunggal H, A, dan SG juga menanamkan nilai-nilai berupa menghormati ibu dan ayah. Ayah tunggal A dan SG juga menanamkan penerimaan terhadap kekurangan atau ujian yang dialami oleh anak yang hanya dibesarkan dan diasuh oleh seorang ayah. Ayah tunggal SG juga menanamkan sikap bersyukur dan merasa cukup serta ayah tunggal G dan Y menanamkan nilai kejujuran. Hasil tersebut senada dengan pendapat Faramaz dan Mahfuzh (Huroniyah, 2004) yang menyatakan bahwa pola asuh Islami pada hakikatnya adalah menyelamatkan fitrah Islamiyah anak.Islam memandang bahwa setiap anak yang dilahirkan sudah membawa fitrah Islamiyah sehingga orang tua wajib menyelamatkan dengan usaha yang nyata.Sebagai orang tua tunggal, dari enam informan yang ada telah megembangkan fitrah Islamiyah anak khusunya pada nilai-nilai ibadah seperti solat dan puasa.Penanaman akidah dimulai dari orang tua dan dilanjutkan dengan penanaman nilai-nilai agama dalam perilaku kehidupan sehari-hari juga tergambar pada kemampuan melaksanakan ibadah. Dengan demikian pola asuh Islami melalui praktik ibadah dapat menjadi penguat, pencegah, dan pembinaan pribadi muslim yang kuat dan memiliki mental yang paripurna (Rojab, 2009).</p>
      <p id="clipboard_property">Pada nilai pikir, ayah H menanamkan kepada anaknya untuk berprestasi meski tanpa kehadiran ibu. </p>
    </sec>
    <sec>
      <title id="t-f1d64d8ed958">Discussion</title>
      <p id="p-b4723b0a0184"> Hasil tersebut juga sesuai dengan pendapat Faramaz dan Mahfuzh (Huroniyah, 2004) yang menyatakan bahwa salah satu hakikat pola asuh Islami adalah pengembangan potensi pikir yang merupakan hal yang membedakan antara makhluk Allah yang bernama manusia dengan makhluk lain. Potensi pikir yang dimiliki oleh anak perlu dikembangkan melalui pendidikan khususnya.</p>
      <p id="p-a63a08cc35fa">Pada nilai diri (rasa), ayah tunggal H menanamkan nilai percaya diri pada anak. Ayah tunggal H dan A menanamkan nilai optimisme, sedangkan ayah tunggal T menanamkan nilai sopan santun. Hasil tersebut juga sesuai dengan pendapat Faramaz dan Mahfuzh (Huroniyah, 2004) yang menyatakan bahwa salah satu hakikat pola asuh Islami adalah mengembangkan potensi rasa anak. Perasaan yang dijiwai dengan kaidah Islamiyah maka anak akan tumbuh dewasa menjadi orang yang berakhlak baik dalam menjalin hubungan sang Pencipta dan berakhlak baik dalam bergaul sesame makhluk ciptaan-Nya.</p>
      <p id="p-9edf9543fd45">Selanjutnya nilai yang telah ditanamkan ayah sebagai orang tua tunggal adalah nilai terhadap tugas (karsa dan kerja) berupa penanaman kemandirian dan bertanggung jawab pada tugas sehari-hari yang dilakukan oleh ayah tunggal H, A, dan T serta kerja kelas oleh ayah tunggal A dan H. Hasil ini sesuai dengan pendapat Faramaz dan Mahfuzh (Huroniyah, 2004) yang menyatakan bahwa salah satu hakikat pola asuh Islami adalah mengembangkan potensi kerja anak-anak dengan kelengkapan jasmaniah yang dimiliki, anak memiliki potensi kerja yang pada hakikatnya merupakan sebuah aktivitas untuk mendapatkan materi demi tercukupinya kebutuhan seperti sandangm pangan, dan papan. Dalam hal ini, anak-anak sedang berupaya dalam mewujudkan kemandirian dan tanggung jawab yang diembannya.</p>
      <p id="p-affffb9ceb7e">Nilai terakhir yang ditanamkan adalah nilai sosial/kemasyaraktan yang meliputi penanaman nilai kebersamaan dengan orang lain oleh ayah tunggal Y dan T, nilai gotong royong oleh ayah SG, nilai kerja sama dan tolong-menolong oleh ayah tunggal A dan T, nilai hidup rukun oleh ayah tunggal A dan SG, nilai patuh pada orang yang lebih tua oleh orang tua tunggal SG, dan nilai kebermanfaatan untuk orang lain oleh ayah tunggal T. Hal ini sesuai dengan pernyataan Ulwan (Saputra, 2014) yang menyatakan bahwa orang tua juga dapat mengajarkan kegiatan kerumah tanggaan melalui pengenalan aspek-aspek sosial kemasyarakatan, nilai-nilai kehidupan sosial antara anak dengan orang tua, saudara, tetangga, atau orang lain yang ada di sekitar rumah tangganya.</p>
      <p id="p-62b283d9009c">Berdasarkan uraian tersebut, ayah sebagai orang tua tunggal telah menanamkan nilai-nilai keislaman pada anak-anaknya meski dengan variasi yang berbeda. Ayah sebagai orang tua tunggal tidak kalah dengan kedudukan ibu meski letak kedudukan ibu sebagai pendidik utama lebih besar dalam Islam. Meski begitu, Islam juga menjelaskan kedudukan seorang lelaki ayah juga menjadi pendidik dalam keluarga sebagaimana firman Allah SWT, <italic id="e-d2aec8ad0f63">"Quu anfusakum waahlikum naaran"</italic> (jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka). </p>
    </sec>
    <sec>
      <title id="t-6a44afd325eb">Conclusion</title>
      <p id="p-c9fca55506fb"> Penanaman nilai-nilai Islam pada pengasuhan ayah sebagai orang tua tunggal bahwa ayah ikut berperan aktif dalam melakukan nilai-nilai keislaman pada anak sejak bercerai maupun setelah ditinggal istrinya meninggal. Nilai-nilai yang ayah tunggal tanamkan dalam pengasuhan anak meliputi nilai agama, pikir, diri/rasa, tugas (karsa dankerja), dan sosial/kemasyarakatan. Dapat disimpulkan bahwa ayah sebagai orang tua tunggal telah menanamkan nilai-nilai keislaman pada anak-anaknya meski dengan variasi yang berbeda. Ayah sebagai orang tua tunggal tidak kalah dengan kedudukan ibu meski letak kedudukan ibu sebagai pendidik utama lebih besar dalam Islam. Meski begitu, Islam juga menjelaskan kedudukan seorang lelaki ayah juga menjadi pendidik dalam keluarga sebagaimana firman Allah SWT, <italic id="e-0181514c3506">"Quu anfusakum waahlikum naaran"</italic> (jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka). </p>
      <p id="p-f8d8468f0f1f">Penelitian ini merupakan eksplorasi awal dalam ayah sebagai orangtua tunggal yang cakupan informannya sangat terbatas.Untuk penelitian selanjutnya, perlu dilakukan kajian lebih lanjut. Dengan demikian diharapkan dapat diperoleh gambaran yang komprehensif mengenai variasi nilai-nilai islam pada pengasuhan yang dilakukan oleh ayah tunggal.<bold id="s-a7aecbb2e44b"/></p>
      <p id="p-c4c4d2d0e290">
        <bold id="s-6ed0f0ebb6e3"> <xref rid="R95634821038888" ref-type="bibr">1</xref>, <xref rid="R95634821038889" ref-type="bibr">2</xref>, <xref rid="R95634821038890" ref-type="bibr">3</xref>, <xref rid="R95634821038891" ref-type="bibr">4</xref>, <xref rid="R95634821038892" ref-type="bibr">5</xref>, <xref rid="R95634821038893" ref-type="bibr">6</xref>, <xref rid="R95634821038895" ref-type="bibr">7</xref>, <xref rid="R95634821038896" ref-type="bibr">8</xref>, <xref rid="R95634821038897" ref-type="bibr">9</xref>, <xref rid="R95634821038898" ref-type="bibr">10</xref>, <xref rid="R95634821038899" ref-type="bibr">11</xref>, <xref rid="R95634821038900" ref-type="bibr">12</xref>, <xref rid="R95634821038901" ref-type="bibr">13</xref> </bold>
      </p>
      <p id="p-f200059415c7"/>
    </sec>
  </body>
  <back>
    <ref-list>
      <title>References</title>
      <ref id="R95634821038888">
        <element-citation publication-type="website">
          <person-group person-group-type="author">
            <collab/>
          </person-group>
          <article-title>Badan Pusat Statistik</article-title>
          <year>2016</year>
          <uri>https://www.bps.go.id/linkTableDinamis/view/id/893</uri>
          <date-in-citation content-type="access-date">1 September 2018</date-in-citation>
        </element-citation>
      </ref>
      <ref id="R95634821038889">
        <element-citation publication-type="journal">
          <person-group person-group-type="author">
            <name>
              <surname>J</surname>
              <given-names>Defarin,</given-names>
            </name>
            <name>
              <surname>N</surname>
              <given-names>Stinnett,</given-names>
            </name>
            <collab>J. J. Ponzetti</collab>
          </person-group>
          <article-title>Family strength</article-title>
          <source>International Encyclopedia of Marriage and Family </source>
          <year>2003</year>
          <publisher-loc>New York</publisher-loc>
        </element-citation>
      </ref>
      <ref id="R95634821038890">
        <element-citation publication-type="journal">
          <person-group person-group-type="author">
            <name>
              <surname>E</surname>
              <given-names>Dowd, N.</given-names>
            </name>
            <collab>New York </collab>
          </person-group>
          <article-title>In defense of single families.</article-title>
          <source>University Press</source>
          <year>1997</year>
        </element-citation>
      </ref>
      <ref id="R95634821038891">
        <element-citation publication-type="book">
          <person-group person-group-type="author">
            <name>
              <surname>F</surname>
              <given-names>Koerner, A.</given-names>
            </name>
            <name>
              <surname/>
              <given-names>Fitzpatrick, M. A.</given-names>
            </name>
            <collab>New York: Routledge.</collab>
          </person-group>
          <person-group person-group-type="editor"/>
          <source>Handbook of family communication. </source>
          <year>2013</year>
          <fpage>129</fpage>
          <lpage>44</lpage>
        </element-citation>
      </ref>
      <ref id="R95634821038892">
        <element-citation publication-type="journal">
          <person-group person-group-type="author">
            <name>
              <surname>F</surname>
              <given-names>Hidayati,</given-names>
            </name>
            <name>
              <surname/>
              <given-names>Kaloeti, D. V. S.,</given-names>
            </name>
            <name>
              <surname>Karyono</surname>
              <given-names/>
            </name>
            <collab/>
          </person-group>
          <article-title>Peran ayah dalam pengasuhan anak.</article-title>
          <source>Jurnal Psikologi Undip</source>
          <year>2011</year>
          <volume>1</volume>
          <issue>9</issue>
          <fpage>1</fpage>
          <lpage>8</lpage>
        </element-citation>
      </ref>
      <ref id="R95634821038893">
        <element-citation publication-type="thesis">
          <person-group person-group-type="author">
            <name>
              <surname/>
              <given-names>Huroniyah, F.</given-names>
            </name>
            <collab/>
          </person-group>
          <article-title>Hubungan antara persepsi pola asuh Islami terhadap kematangan beragama dan kontrol diri.</article-title>
          <publisher-loc>Yogyakarta.</publisher-loc>
          <institution>Universitas Gadjah Mada</institution>
          <year>2004</year>
        </element-citation>
      </ref>
      <ref id="R95634821038895">
        <element-citation publication-type="book">
          <person-group person-group-type="author">
            <name>
              <surname>Ihromi</surname>
              <given-names/>
            </name>
            <collab/>
          </person-group>
          <person-group person-group-type="editor"/>
          <source>Bunga rampai sosiologi keluarga. </source>
          <publisher-loc>Jakarta: Obor</publisher-loc>
          <year>1999</year>
        </element-citation>
      </ref>
      <ref id="R95634821038896">
        <element-citation publication-type="journal">
          <person-group person-group-type="author">
            <name>
              <surname>M</surname>
              <given-names>Morman,</given-names>
            </name>
            <name>
              <surname/>
              <given-names> Floyd, K.</given-names>
            </name>
            <collab/>
          </person-group>
          <article-title>Good Fathering: Father and Son Perceptions of What It Means to Be a Good Father</article-title>
          <source>Fathering: A Journal of Theory, Research, and Practice about Men as Fathers, </source>
          <year>2016</year>
          <volume>2</volume>
          <issue>4</issue>
          <fpage>113</fpage>
          <lpage>136</lpage>
        </element-citation>
      </ref>
      <ref id="R95634821038897">
        <element-citation publication-type="journal">
          <person-group person-group-type="author">
            <name>
              <surname>Nurhayati</surname>
              <given-names/>
            </name>
            <name>
              <surname>Syahrizal</surname>
              <given-names/>
            </name>
            <collab/>
          </person-group>
          <article-title>Urgensi dan peran ibu sebagai madrasah al-ula dalam pendidikan anak.</article-title>
          <source>Jurnal Itqan</source>
          <year>2015</year>
          <volume>2</volume>
          <issue>6</issue>
          <fpage>153</fpage>
          <lpage>166</lpage>
        </element-citation>
      </ref>
      <ref id="R95634821038898">
        <element-citation publication-type="journal">
          <person-group person-group-type="author">
            <name>
              <surname>Rojab</surname>
              <given-names/>
            </name>
            <name>
              <surname>Khoirunnas</surname>
              <given-names/>
            </name>
            <collab/>
          </person-group>
          <article-title>Psikologi ibadah: kajian kesehatan mental Islam. </article-title>
          <source>Jurnal Sosio-Religia</source>
          <year>2009</year>
          <volume>2</volume>
          <issue>8</issue>
          <fpage>409</fpage>
          <lpage>424</lpage>
        </element-citation>
      </ref>
      <ref id="R95634821038899">
        <element-citation publication-type="journal">
          <person-group person-group-type="author">
            <name>
              <surname>Saputra,</surname>
              <given-names/>
            </name>
            <name>
              <surname>Rahmat</surname>
              <given-names/>
            </name>
            <collab/>
          </person-group>
          <article-title>Konsep pendidikan anak dalam Islam (matero dan metode dalam pendidikan keluarga)</article-title>
          <source>Jurnal Ilmiah Pendidikan Islam At-Ta’dib</source>
          <year>2014</year>
          <volume>1</volume>
          <issue>6</issue>
          <fpage>106</fpage>
          <lpage>116</lpage>
        </element-citation>
      </ref>
      <ref id="R95634821038900">
        <element-citation publication-type="journal">
          <person-group person-group-type="author">
            <name>
              <surname>E.N</surname>
              <given-names>Stephen,</given-names>
            </name>
            <name>
              <surname/>
              <given-names>Udisi, L.</given-names>
            </name>
            <collab/>
          </person-group>
          <article-title>Single parent families and their impact on children: a study of amassoma community in bayelsa state. </article-title>
          <source>Journal of Research in Social Sciences</source>
          <year>2016</year>
          <volume>4</volume>
          <issue>9</issue>
          <fpage>1</fpage>
          <lpage>24</lpage>
          <publisher-loc>European </publisher-loc>
        </element-citation>
      </ref>
      <ref id="R95634821038901">
        <element-citation publication-type="journal">
          <person-group person-group-type="author">
            <name>
              <surname/>
              <given-names>Suwinita, I. G. A. M</given-names>
            </name>
            <name>
              <surname/>
              <given-names>Marheni, A.</given-names>
            </name>
            <collab/>
          </person-group>
          <article-title>Perbedaan kemandirian remaja SMA antara yang single father dengan single mother akibat perceraian</article-title>
          <source>Jurnal Psikologi Udayana</source>
          <year>2015</year>
          <volume>1</volume>
          <issue>2</issue>
          <fpage>1</fpage>
          <lpage>9</lpage>
        </element-citation>
      </ref>
    </ref-list>
  </back>
</article>
